Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2019

Berhasil atau Gagal, Semuanya Perlu Dipersiapkan

Keberhasilan dan kegagalan seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Keberhasilan dan kegagalan adalah kebalikan kata (antonim) yang tentu saja memiliki arti berbeda. Namun meski demikian, kita sebagai manusia yang pasti memiliki peluang untuk merasakan dua hal tersebut seharusnya lebih mempersiapkan diri mulai dari sekarang. Mengapa demikian? Ada banyak alasan, salah satu di antaranya adalah agar hidup kita tetap tenang apapun keadaan yang sedang atau nantinya akan kita lalui. Baik itu keadaan terbaik maupun terburuk. Orang-orang yang menginginkan keberhasilan tentu harus mempersiapkan diri untuk menghadapi sebuah kegagalan. Oleh karena itu, kita jangan hanya sekedar mencari jalan agar berhasil, tetapi juga harus memahami apa yang nantinya akan menjadi penyebab kegagalan pada jalan tersebut. Bukan juga takut untuk melangkah ataupun terus meratapi mengapa kegagalan itu bisa terjadi, tetapi berpikir apa yang harus dilakukan untuk mengatasi dan mengantisipasi segala sesuatu...

Ibadah Seumur Hidup

Pada Januari 2019, Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk bersilaturahmi dengan keluarga besar di Yogyakarta. Meskipun tidak lama, tetapi cukup untuk melunasi beberapa rindu yang terus mengganggu. Di hari terakhir sebelum kembali ke Tigaraksa, seperti biasa saya banyak bertukar pikiran dan berbagi cerita dengan kakak sepupu perempuan saya yang kebetulan telah menggenapi separuh agamanya. Ia banyak bercerita tentang bagaimana kehidupan berumahtangga yang sesungguhnya, mulai dari bahagianya sampai lika-liku cobaannya. Saya ingat betul ucapannya, “ nikah itu ibadah yang paling lama kalau kita ngga sabar ngejalaninnya. ” Ya, kira-kira begitulah ucapannya. Mendengar ceritanya, saya jadi teringat beberapa nasihat yang pernah diberikan oleh dosen mata kuliah Konseling Keluarga ketika saya di semester lima. Dosen saya berkata bahwa “nikah” itu ngga bisa kalau hanya modal ‘ nyetrum ’ saja. Sekarang ini, tidak sedikit dari kita yang terobsesi menjadi singlelillah yang bermimpi m...

Agar Kebersamaan Tidak Menuai Perselisihan

Sejatinya, manusia adalah makhluk sosial yang pasti membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Di rumah, seorang anak membutuhkan kehadiran ayah, ibu dan kerabat-kerabatnya, begitu pun sebaliknya. Di sekolah, seorang murid pasti membutuhkan sosok guru. Begitu pula seorang guru, ia tidak akan disebut sebagai guru kalau tidak ada murid yang harus diajarinya. Apalagi dalam kehidupan bermasyarakat, setiap individu pasti saling memengaruhi, berinteraksi dan membutuhkan bantuan. Kehidupan sosial yang kita jalani sudah semestinya dibangun dengan pondasi cinta dan rasa kasih sayang yang kuat. Sebab Islam mengajarkan hal demikian. Dengan kasih sayang, kehidupan bermasyarakat maupun bernegara akan terasa nyaman dan tentram. Memang tidak dapat dipungkiri bahwasannya banyak sekali perbedaan yang terdapat pada setiap manusia. Mulai dari perbedaan fisik, karakter, suku, agama dan ras pasti semuanya berbeda dan tidak ada yang sama. Jangankan seluruh manusia di bumi ini, umat Islam pun tentu memiliki...