Ibadah Seumur Hidup
Pada Januari 2019, Alhamdulillah saya
masih diberi kesempatan untuk bersilaturahmi dengan keluarga besar di
Yogyakarta. Meskipun tidak lama, tetapi cukup untuk melunasi beberapa rindu
yang terus mengganggu. Di hari terakhir sebelum kembali ke Tigaraksa, seperti
biasa saya banyak bertukar pikiran dan berbagi cerita dengan kakak sepupu
perempuan saya yang kebetulan telah menggenapi separuh agamanya. Ia banyak
bercerita tentang bagaimana kehidupan berumahtangga yang sesungguhnya, mulai
dari bahagianya sampai lika-liku cobaannya. Saya ingat betul ucapannya, “nikah
itu ibadah yang paling lama kalau kita ngga sabar ngejalaninnya.” Ya,
kira-kira begitulah ucapannya. Mendengar ceritanya, saya jadi teringat beberapa
nasihat yang pernah diberikan oleh dosen mata kuliah Konseling Keluarga ketika
saya di semester lima. Dosen saya berkata bahwa “nikah” itu ngga bisa kalau hanya
modal ‘nyetrum’ saja.
Sekarang ini, tidak sedikit dari kita yang
terobsesi menjadi singlelillah yang bermimpi mendapatkan pendamping yang
sholeh/sholehah. Namun tidak banyak dari kita –yang tadi terobsesi menjadi singlelillah–
yang mau belajar untuk menjadi singlelillah yang benar-benar berkualitas
dan mempersiapkan bekal untuk menghadapi ibadah seumur hidup itu –ibadah seumur
hidup adalah sebuah istilah yang saya berikan untuk ibadah menikah. Pernah
dengar kalau jodoh adalah cerminan diri kita? Nah, kalau sudah pernah dengar,
coba direnungkan jangan hanya masuk kuping kanan terus keluar kuping kiri. Mau kan
jodoh yang sholeh/sholehah itu singgah, ngga hanya lewat? Makanya yuk
belajar dari sekarang.
Kalau kita lihat di televisi atau di youtube
–beberapa channel yang memproduksi film pendek islami– mungkin kehidupan
keluarga yang harmonis –sakinah, mawadah, warahmah– itu sangat banyak. Semua adegan
kehidupan berkeluarga yang diciptakan terlihat sangat indah dan gampang untuk
dijalani, seperti ngga ada masalah, kan? Namun, nyatanya tidak
begitu. Tidak mudah menjalani kehidupan keluarga setelah kita menjadi subjek
dari keluarga itu sendiri. Ada saja hal yang menjadi pemicu permasalahan dan
sandungan dalam hidup. Itulah mengapa kita dituntut untuk memiliki ilmu dan
keterampilan agar bisa memecahkan masalah yang hadir di setiap episode
kehidupan berkeluarga.
Oiya, by the way saya juga belum berkeluarga lho ya, makanya di tulisan ini saya tidak bermaksud untuk mengajari atau menggurui. Saya hanya ingin berbagi cerita dan pelajaran yang saya dapat dari orang-orang yang sudah berpengalaman. Belajar itu kan bisa dari siapa saja dan di mana saja, so gapapa dong ya kalau kita belajar bareng di sini, siapa tahu ilmu dan referensi kita menjadi semakin bertambah. Kita sama-sama belajar ya, supaya nanti keluarga kita menjadi keluarga yang terpelajar sesuai dengan Alquran dan Sunnah. Sebab menjalani sebuah keluarga agar menjadi keluarga yang sakinah tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Perlu belajar, perlu pemahaman, perlu ilmu dan perlu persiapan untuk mewujudkan itu semua.
Oiya, by the way saya juga belum berkeluarga lho ya, makanya di tulisan ini saya tidak bermaksud untuk mengajari atau menggurui. Saya hanya ingin berbagi cerita dan pelajaran yang saya dapat dari orang-orang yang sudah berpengalaman. Belajar itu kan bisa dari siapa saja dan di mana saja, so gapapa dong ya kalau kita belajar bareng di sini, siapa tahu ilmu dan referensi kita menjadi semakin bertambah. Kita sama-sama belajar ya, supaya nanti keluarga kita menjadi keluarga yang terpelajar sesuai dengan Alquran dan Sunnah. Sebab menjalani sebuah keluarga agar menjadi keluarga yang sakinah tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Perlu belajar, perlu pemahaman, perlu ilmu dan perlu persiapan untuk mewujudkan itu semua.
Menjadikan Allah sebagai sandaran atas segala
urusan. Always Allah,
everywhere and everytime. Sebab perlu diketahui bahwa menjalani kehidupan
berumahtangga berarti mulai memasuki gerbang kehidupan baru yang pastinya
berbeda 180 derajat dengan kehidupan ketika masih sendiri. Seperti yang
sebelumnya sudah saya tulis, bahwa kehidupan berumahtangga itu tidak selalu
berjumpa dengan keindahan dan kebahagiaan layaknya ftv atau sinetron. Adakalanya
rumah tangga dijumpai oleh peristiwa di luar dugaan seperti rasa kecewa
terhadap pasangan, anak, kerabat atau bahkan masalah sepele yang berubah
menjadi besar dan tidak kunjung dapat terselesaikan. Ketika kita menyadari
bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi merupakan bagian dari takdir dan
kehendak-Nya, maka sebagai orang beriman pasti kita segera menyandarkan segala
permasalahan tersebut kepada Allah. Sebagai orang beriman pula pastilah
meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi selalu ada hikmahnya dan tidak
pernah sia-sia. Dalam keadaan demikianlah, manusia diharapkan dapat memiliki
ketangguhan untuk menjalani berbagai cobaan hidup dan menjadikannya sebagai
sarana untuk menambah keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Orang beriman pun
selalu meyakini bahwa Allah selalu memiliki rencana yang terbaik untuk
hambanya. Allah mengetahui segala sesuatu, sedangkan kita tidak. Terkadang yang
tidak kita sukai justru yang terbaik dan begitupun sebaliknya.
Memiliki visi keakhiratan. Sehidup, sesurga bersama pasangan halal.
Sebuah keluarga islami haruslah memiliki visi jangka panjang yang tertuju
kepada akhirat, yakni menggapai surga bersama pasangan halal. Untuk mewujudkan
visi tersebut tentulah tidak semudah menuliskannya di atas secarik kertas,
diperlukan misi-misi yang sejalan agar visi tersebut dapat tercapai. Itulah
mengapa pemahaman dan rasa tanggungjawab untuk saling mengingatkan dalam
kebaikan dan mencegah kemungkaran sangat diperlukan. Bila sang istri memiliki
kecenderungan berperilaku tidak baik, maka sang suami harus segera mengingatkan
dan begitupun sebaliknya. Peringatan yang diberikan tentulah harus dengan
bahasa yang baik dan sikap yang lembut serta tidak menyakiti perasaan pasangan.
Mengampayekan visi dan misi seharusnya dilakukan ketika masa taaruf, di mana
masa ini merupakan masa penjajakan untuk saling mengenal (secara islami) dan
saling memahami tujuan hidup masing-masing serta tujuan hidup bersama yang akan
dicapai. Dengan menjadikan pernikahan sebagai ibadah dan sarana untuk semakin
mencintai serta mendekatkan diri kepada Allah, maka InsyaAllah
keberkahan dalam keluarga tersebut akan didapatkan.
Menjaga intensitas komunikasi dengan pasangan
dan keluarga besar. Menikah
itu bukan hanya perihal menyatukan dua insan, tetapi menyatukan dua keluarga
besar yang memiliki banyak perbedaan. Menyatukan pikiran dalam satu kelompok
kecil saja sulit luar biasa, bagaimana jadinya menyatukan dua keluarga besar
yang terdiri dari banyak kepala dan pemikiran serta karakter yang beragam? Tentu
tidak mudah. Perlu diketahui pula tidak sedikit permasalahan yang terjadi dalam
pernikahan dipicu oleh perbedaan yang terdapat pada keluarga besar, bahkan
permasalahan tersebut berakhir pada perceraian. Oleh karena itu, perlu adanya
kesadaran untuk membangun komunikasi yang baik dengan kedua pihak keluarga
besar. Hal tersbut tentunya dimulai dengan membangun komunikasi baik dan intens
dengan pasangan terlebih dahulu. Apabila hal tersebut berhasil, niscaya
keharmonisan pun akan tercipta, InsyaAllah.
Memiliki sikap sabar dan syukur. Sama halnya seperti menyikapi permasalahan
hidup pada umumnya. Berbagai problematika yang terjadi dalam rumah tangga pun
harus disikapi dengan sabar dan syukur. Sebab sabar dan syukur merupakan pilar
seorang hamba. Bila dalam kehidupan berumahtangga kita berjumpa dengan keadaan
yang tidak menyenangkan, maka di situlah saatnya untuk kita belajar mempertebal
kesabaran agar mendapatkan kasih sayang dari-Nya. Sedangkan apabila kita
berjumpa dengan kebhagiaan maka di situlah sesungguhnya Allah menguji seberapa
bersyukurnya kita dengan semua nikmat yang telah diberikan-Nya. Ketika
kehidupan berumahtangga selalu berasaskan sabar dan syukur, maka niscaya kerelaan
dan keikhlasan akan senantiasa dirasakan baik dalam keadaan suka maupun duka,
InsyaAllah.
Pemenuhan atas hak dan kewajiban antar pasangan. Dalam kehidupan berumahtangga, tidak semestinya
ada salah satu pihak yang merasa dirugikan atau diuntungkan. Karena rumah tangga
bukan ajang jual beli untuk mencari laba sebesar-besarnya, melainkan ajang
untuk bersama-sama mencari keuntungan berupa pahala dan kasih sayang-Nya. Dalam
menjalani kehidupan berumahtangga, baik istri maupun suami tidak diperkenankan hanya
menuntut hak yang seharusnya didapatkan. Namun lebih dari itu, ada
tanggungjawab atas kewajiban yang harus ditunaikan. Dalam berumahtangga, jangan
dulu menuntut untuk mendapatkan kebahagiaan, tetapi cobalah terlebih dahulu
belajar untuk memberikan kebahagiaan kepada pasangan. Ketika hal tersebut sudah
dilakukan tentulah rasa saling menghormati dan menghargai akan timbul dan
pemenuhan atas hak dan kewajiban akan seimbang.
Secuil cerita tadi saya harap dapat menjadi
manfaat untuk kita ya. Semoga kita senantiasa menjadi manusia yang mau terus
belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karena kita sebagai umat
Rasulullah pastilah akan menjalankan Sunnahnya yaitu menikah. Menikah bukan hanya
perkara yang harus diselesaikan dalam sehari, seminggu, sebulan atau setahun
saja melainkan selamanya sampai Allah memanggil untuk pulang. Oleh karena itu,
saya ngga akan bosan mengajak belajar dan menjadi yang terbaik
supaya kelak Allah pun mengirimkan insan yang terbaik untuk menggenapi separuh
agama kita dan menemani hari-hari kita seterusnya. Aamiin.
Kurangi frekuensimu untuk mencari, mulailah belajar untuk menjadi. Sebab lebih baik menjadi dan dicari daripada terus mencari tapi justru lupa untuk menjadi - Tsani.
Komentar
Posting Komentar