Orangtua Cerdas, Anak Berkualitas
Pada 24 November 2018, saya menjadi salah satu
panitia acara seminar parenting yang diadakan di Desa Bojong Pandan, Kecamatan
Tunjung Teja, Kabupaten Serang. Acara ini merupakan tugas akhir saya dan
teman-teman pada mata kuliah konseling keluarga. Acara seminar tersebut dihadiri
oleh seluruh masyarakat yang ada di desa tersebut. Dengan menghadirkan
narasumber yang ahli dalam bidang parenting yaitu Ibu Maria Ulfah, saya
berusaha untuk mencerna setiap materi yang disampaikan. Kini, melalui tulisan
ini –hasil belajar saya sekaligus merupakan materi dalam acara seminar– saya
ingin berbagi kepada para pembaca semua agar bersama-sama dapat belajar menjadi
orangtua atau calon orangtua yang baik bagi anak-anak kita kelak. Aamiin.
Bismillahirrahmanirrahim..
Ketika seseorang menginginkan menjadi orangtua
yang cerdas untuk anaknya, hal pertama yang harus ia lakukan adalah memahami
tujuan dari pernikahan. Sebab menikah bukan hanya sekedar mengubah status,
tetapi lebih dari itu. Menikah sebagai wujud dari cinta kita kepada Rasulullah –mengikuti
sunahnya– dan juga wujud dari ketaatan kita kepada Allah –menjauhkan diri dari
maksiat dan zina. Tujuan dari pernikahan secara umum tentu saja untuk
melampiaskan hawa nafsu kepada perkara yang halal, memperoleh keturunan dan
mencapai kebahagiaan. Namun, selain itu perlu diketahui bahwa ada tujuan
pernikahan yang sejatinya pasti diinginkan oleh setiap pasangan yaitu membentuk
keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Sehidup sesurga bersama pasangan
halal, menyemai cinta agar terjaga sampai ke surga. Indahnya cinta apabila kita
paham batasan-batasan yang diatur oleh-Nya.
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya
ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu
cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa
kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum: 21)
Setelah seseorang tadi mengetahui sekaligus
memahami tujuan dan maksud dari pernikahan,
tentu ia akan mencoba untuk belajar menjadi orangtua yang cerdas agar
kelak anak-anaknya dapat tumbuh menjadi orang-orang yang berkualitas. Intisari dari
ilmu mendidik dan mengasuh anak bagi setiap orangtua adalah agar anak tumbuh
cerdas dan berkualitas sesuai dengan Alquran dan Hadits.
Ada beberapa tujuan pengasuhan menurut Elly
Risman, S.Psi yang dapat dijadikan haluan untuk para orangtua yaitu menjadikan
anak sebagai hamba Allah yang bertaqwa, mendidik anak menjadi calon suami atau
calon istri yang baik, mempersiapkan anak menjadi calon ayah atau calon ibu
yang baik, mengajarkan anak untuk profesional dengan keahliannya serta mengajarkan
anak untuk menjadi manusia bermanfaat bagi orang lain.
Anak perlu keteladanan dari orangtuanya
Sudah selayaknya orangtua memberikan contoh
dan teladan yang baik bagi anak-anaknya. Sebab interaksi pertama yang dilakukan
anak adalah dengan orangtuanya. Ketika orangtua menginginkan anak-anaknya
tumbuh menjadi anak saleh/saleha, maka orangtua harus meneladankan menjadi
orangtua yang saleh/saleha terlebih dahulu. Namun sekarang banyak dijumpai orangtua
yang hanya bisanya nyuruh dan ngatur
saja tanpa memberikan contoh dan keteladanan kepada anak-anaknya. Ingin anaknya
menjadi baik tetapi ia tidak mencontohkan yang baik, lha bagaimana bisa?
Bukankah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya? Jadi, kalau orangtuanya saja
mencontohkan hal yang tidak baik maka jangan salahkan anak kalau ia menjadi
seorang yang tidak baik pula.
Contoh dan keteladanan yang baik dari orangtua
tentu akan selalu diingat oleh anak-anaknya. Hal tersebut akan terus melekat di
dalam alam bawah sadarnya. Salah satu bukti keberhasilan orangtua mendidik
anaknya adalah kemandirian dalam diri anak. Ketika ia sudah tidak tinggal
bersama orangtuanya ia akan tetap melanjutkan kebaikan-kebaikan dan amal saleh
yang biasa dikerjakan di rumahnya ketika masih tinggal bersama orangtuanya.
Kadang butuh ketidaksempurnaan untuk belajar
Orangtua zaman sekarang ingin anaknya selalu
unggul dalam berbagai bidang. Rela melakukan apapun demi mendapatkan anak yang ‘out
standing’. Namun orangtua pun perlu tahu bahwa tidak ada yang sempurna di
dunia ini dan setiap orangtua tidak berhak memaksakan keinginan kepada
anak-anaknya. Orangtua seharusnya menerima semua sifat unik dan bakat anak
sebab setiap anak pasti memiliki kecerdasan sesuai dengan porsi yang telah
diberikan oleh Allah.
Secara sunnatullah, setiap manusia itu diciptakan
secara unik dan berbeda baik sifat, bakat maupun bentuk fisiknya. Ada yang
cerewet, ada yang pendiam, ada yang aktif, ada yang kalem, dan lain-lain.
Orangtua perlu paham bahwa semua sifat unik tadi tidak diciptakan Allah secara
sia-sia melainkan ada maksud dari penciptaannya. Mengharapkan anak untuk dapat
menguasai banyak hal adalah kodrat orangtua, tetapi perlu diingat bahwa
memaksakan kehendak justru akan membunuh kreatifitas dan rasa percaya diri
mereka.
Dalam ilmu psikologi, terdapat teori
kecerdasan majemuk yang dikemukakan oleh Howard Gardner. Teori tersebut
mengemukakan bahwa tidak ada manusia yang bodoh atau tidak bisa apa-apa, karena
setiap manusia memiliki tipe kecerdasan yang berbeda-beda dan sesuai dengan
porsinya. Kecerdasan tersebut di yaitu kecerdasan logis matematis, kecerdasan
visual spasial, kecerdasan linguistik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan
intrapersonal, kecerdasan kinestetik, kecerdasan musikal dan kecerdasan
naturalis.
MasyaAllah begitu sempurnanya Allah menciptakan manusia tanpa
kurang satu apapun. Orangtua seharusnya lebih bersyukur dan menggali kecerdasan
yang dimiliki oleh anak-anaknya bukan malah menginginkan atau membandingkan
anak dengan oranglain.
Selalu sabar dan mendoakan anak
Sudah selayaknya orangtua tidak bosan dalam
mendoakan anak-anaknya sebab doa orangtua yang ikhlas dan tulus merupakan doa
yang paling mustajab sekaligus sebagai salah satu pintu untuk menuju kesuksesan
anak.
“Tiga doa mustajab yang tidak diragukan
lagi yaitu doa orangtua, doa orang yang berpergian (safar) dan doa orang yang
didzalimi.” (HR. Abu Daud)
Untuk itu hendaknya orangtua mendoakan
anak-anaknya agar senantiasa dalam lindungan Allah SWT, dikelilingi oleh
kebaikan serta menjadi anak-anak yang saleh/saleha. Adapun yang dapat dijadikan
contoh adalah ketika Nabi Ibrahim mendoakan anak keturunannya yang mana
termaktub dalam surah Ibrahim ayat 40:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
“Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku
orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.”
Semoga tulisan singkat ini dapat menjadi
manfaat untuk kita semua dan semoga yang sudah maupun yang belum menjadi
orangtua tidak lelah ataupun segan untuk terus belajar menjadi seseorang yang
lebih baik agar kelak Allah pun memberikan keturunan yang baik kepada kita
semua. Aamiin.
Wallahu'alam bishawab.
Komentar
Posting Komentar