Mengenal Sosok Pendiri Tarekat Sufi Kubrawiyah
Bismillahirrahmanirrahim
Tulisan
ini saya buat untuk memenuhi tugas keempat saya pada mata kuliah Filsafat
Islam. Namun tidak hanya untuk pemenuhan tugas semata, tulisan ini juga dimaksudkan
untuk memperkenalkan salah seorang filsuf muslim yang bernama Najmuddin Kubra kepada
para pembaca. “Tak kenal maka tak sayang”, begitulah pepatah mengatakan. Namun
bagi saya, jika kita tidak mengenal itu artinya harus berusaha untuk mencari
dan berkenalan agar kita bisa lebih mengetahui sehingga nantinya kita dapat
mengambil ibrah atau pelajaran dari setiap perjalanan hidup seorang
filsuf.
Selama
saya belajar dan menimba ilmu melalui jalur pendidikan formal, ini adalah kali
pertama saya mendengar filsuf muslim yang bernama Najmuddin Kubra. Selama ini
saya hanya mengetahui filsuf muslim seperti, Ibnu Sina, Al-Kindi, Al-Farabi,
Al-Khawarizmi, Ar-Razi, Al-Ghazali dan itupun saya ketahui melalui buku-buku
pelajaran dan penjelasan dari guru saya semasa di Madrasah Aliyah. Lalu ketika
memasuki jenjang Perguruan Tinggi saya pun belum pernah mencari, membaca,
belajar atau bahkan mengkaji perjalanan hidup atau biografi seorang filsuf
muslim yang bernama Najmuddin Kubra.
Selama
rentang penugasan, saya berusaha mencari buku-buku tentang sosok Najmuddin
Kubra mulai dari perpustakaan di kampus hingga ke perpustakaan daerah yang ada
di Kabupaten Tangerang. Saya pun bahkan sempat bertanya kepada kakak tingkat
barangkali mereka mempunyai buku filsafat yang di dalamnya terdapat kisah
tentang Najmuddin Kubra. Namun sayangnya buku tentang Najmuddin Kubra tidak
berhasil saya dapatkan. Kemudian saya mencoba mencari biografi Najmuddin Kubra
melalui situs daring dan walhasil saya pun menemukan beberapa tulisan tentang
Najmuddin Kubra.
Biografi
atau tulisan tentang Najmuddin Kubra yang berhasil saya temukan lebih
didominasi oleh bahasa Inggris, sehingga membutuhkan waktu untuk saya membaca,
menerjemahkan dan memahami tentang perjalanan atau biografi Najmuddin Kubra.
Hingga akhirnya, meski tidak banyak yang dapat saya tangkap tetapi saya paham
bahwa Najmuddin Kubra adalah sosok yang telah berjasa di bidang tasawuf. Ia
adalah sosok yang telah berjasa dalam mendirikan tarekat sufi Kubrawiyah pada
masanya.
Berikut
saya tuliskan biografi Najmuddin Kubra. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.
Najmuddin Kubra: Pendiri Tarekat Sufi Kubrawiyah
Najmuddin
Kubra (Persia : نجمالدین کبری) atau Najm al-Din
Kubra (Syekh Abu al-Jannāb Ahmad ibn 'Umar) adalah sufi Persia abad ke-13 dari
Khwarezmia. Ia adalah pendiri Kubrawiyya atau tarekat sufi Kubrawiyah yang
banyak berpengaruh di Ilkhanid dan Timurid. Lahir di Konye-Urgench, al-din pada
tahun 540/1145 M, Najmuddin Kubra memulai karirnya sebagai seorang sarjana
hadis dan kalam. Minatnya dalam dunia tasawuf dimulai ketika ia berada di Mesir
dan menjadi murid Syaikh Ruzbihan Baghli Shirazi (Wikipedia.org).
Setelah
bertahun-tahun belajar, Najmuddin Kubra mulai menjauh dari ilmu-ilmu agama dan
mengabdikan hidupnya menjadi seorang sufi. Syeikh Zia-Al-Din-'Ammar Bītlīsî
adalah guru Najmuddin Kubra. Ia –guru Najmuddin Kubra– mencoba untuk menyajikan
pemikiran seorang sufi dalam cara baru untuk memberikan kontemplasi dan
pengaruh bagi pembaca.
Najmuddin
Kubra wafat pada tahun 618/1221 M. Ia wafat selama penaklukan Mongol dan Genosida
setelah menolak untuk meninggalkan kota dan berjuang memerangi Mongol.
Najmuddin Kubra dikenang sebagai pelopor tradisi sufi dan penjelasan pengalaman
visioner spiritual. Karyanya menyebar di seluruh Timur Tengah dan Asia Tengah.
Hasil Karya
Najmuddin Kubra
Selain karyanya berpusat di sekitar komentar Sufi dari Al Quran, Kubra menulis risalah penting lainnya yakni:
- Fawa'ih al-Djamal wa-fawatih al-Djalal
- Ushul al 'Ashara
- Risalat al-kha'if al-ha'im min lawmat al-la'im
Karya-karyanya banyak membahas tentang
analisis mimpi dan penglihatan, seperti pentingnya mimpi dan penglihatan,
derajat pencerahan bercahaya yang memanifestasikan dengan mistik, kelas yang
berbeda dari konsep dan gambar yang melibatkan perhatiannya, dan sifat serta
keterkaitan dari manusia. Penafsiran dan pemahaman mimpi itu penting karena nabi Muhammad telah mengembangkan agama Islam berdasarkan wahyu dari Allah, sehingga
Alquran menjadi pedoman hidup umat Islam.
Tarekat Sufi Kubrawiyah
Kubrawiyya atau tarekat sufi Kubrawiyah,
berfokus pada menjelaskan pengalaman visioner. Pengaruh Kubrawiyya dapat
dilihat pada dunia Islam secara keseluruhan karena hubungannya dengan pengaruh kuat
dari Syi'ah di Iran. Kubrawiyya tidak sepenuhnya populer sampai setelah
kematian Kubra di abad ke-13. Kubrawiyya menemukan perkembangan besar di luar
Asia Tengah, namun pengaruhnya dan kehadiran hanya berlangsung sampai abad
ke-16, ketika dibayangi oleh Naqshbandiya (kelompok sufi lain) selama
Kekaisaran Ottoman.
Kubrawiyya berpengaruh di Asia
Tengah, mendirikan banyak kegiatan politik, sosial, dan ekonomi di sana, tapi
Naqshbandiyah mengembangkan ide-ide untuk potensi mereka sepenuhnya. Ajaran
utama Kubrawiyya adalah berkembang dengan baik psikologi mistik berdasarkan
analisis pengalaman visioner. Mereka berfokus pada menjelaskan pengalaman
visioner spiritual yang sufi jalani dalam kehidupan sehari-hari. Perhatian
terbesar mereka berfokus pada zikir sebagai sarana yang memungkinkan
untuk persepsi penglihatan spiritual. Saat ini, Kubrawiyya hampir tidak ada,
namun kelompok-kelompok seperti Naqshbandiyyah dan Yasawiyyah terus berlatih
ritual sufi yang sama dan ide-ide tentang menganalisis visi spiritual.
Masuknya Tarekat ke Indonesia
Para sejarawan barat meyakini, Islam
bercorak sufistik itulah yang membuat penduduk nusantara yang semula beragama
Hindu dan Buddha menjadi sangat tertarik. Tradisi dua agama asal India yang
kaya dengan dimensi metafisik dan spiritualis itu dianggap lebih dekat
dan lebih mudah beradaptasi dengan tradisi thariqah yang dibawa para wali.
Sayangnya dokumen sejarah islam sebelum abad ke-17 cukup sulit dilacak. Meski
begitu, beberapa catatan tradisional di keraton-keraton sedikit banyak
bercerita tentang aktivitas thariqah di kalangan keluarga istana raja-raja
muslim.
Salah satu referensi keterkaitan
para wali dengan dunia thariqah adalah Selat Banten melalui rantai-rantai sejarah banten
kuno. Dalam karya sastra yang ditulis di awal berdirinya Kesultanan Banten itu
disebutkan, pada fase belajarnya Sunan Gunung Jati pernah melakukan perjalanan
ke tanah suci dan berjumpa dengan Syaikh Najmuddin Kubra dan Syaikh Abu Hasan
Asy- Syadzili. Dari kedua tokoh tersebut yang berlainan masa konon kedua sultan tesebut memperoleh
ijazah kemursyidan Thariqah Kubrawiyyah dan Syadziliyyah. Meski jika mengacu
pada data kronologi sejarah tentu saja pertemuan fisik antara Sunan Gunung Jati
yang hidup di abad ke-16 dengan Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili yang wafat di abad ke-13, apalagi dengan Syaikh Najmudin Kubra yang wafat pada tahun 1221 M, tidaklah
mungkin.
Murid-muridnya
Di antara dua belas muridnya yang
dikenal adalah Najmeddin Razi, Sayfeddin Bakhezri, Majd al-Dīn Baghdadi, Ali
bin Lala Ghznavi dan Baha'uddin Walad, ayah dari Jalaluddin Rumi. Namun, salah
satu muridnya yang paling terkenal dan berpengaruh adalah Saad al-Din Hamuwayi.
Hanya sebatas itu saja informasi yang dapat saya sampaikan kepada para pembaca. Karena tidak banyak memang
informasi yang saya dapat sebab saya cukup kesulitan mencari buku tentang
Najmuddin Kubra. Kurangnya bahan bacaan dan sumber yang terpercaya yang membuat
saya tidak bisa menjelaskan lebih mendetail mengenai sosok Najmuddin Kubra.
Namun meski begitu saya tetap meyakini bahwa Najmuddin Kubra adalah sosok yang
sangat berjasa dalam kemajuan Islam pada masa itu. Orang tidak akan mengenal
tasawuf dan dapat mempelajari kehidupan seorang sufi jika tidak ada yang mempelopori atau menemukan
dan memperkenalkan hal tersebut. Ada pesan tersirat yang dapat saya ambil dari kisah Najmuddin Kubra yaitu adalah sekecil apapun ilmu dan penemuan itu yang kita peroleh jika
memang kita perdalam dan kita amalkan secara terus menerus maka akan sangat
bermanfaat untuk diri kita sendiri khususnya dan untuk orang-orang di sekitar
kita pada umumnya. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat
untuk manusia yang lainnya.
Wallahu A'lam Bishawab.
Komentar
Posting Komentar