My First Impression about Filsafat

Bismillahirrahmanirrahim.

Ini adalah tulisan untuk tugas pertama yang saya dapat ketika mengikuti perkuliahan Filsafat Islam pada semester keempat. Dalam tulisan ini saya ingin sedikit berbagi cerita tentang awal mula saya mendengar kata filsafat hingga perlahan mulai mengenalnya dan apa saja yang telah saya dapat selama mempelajari filsafat tersebut. Salah satu alasan mengapa saya menulis essay ini adalah karena tugas yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah Filsafat Islam. Beliau memberikan tugas kepada para mahasiswa untuk membuat essay yang berisi tentang pengalaman pertama ketika mengenal filsafat yang kemudian setiap mahasiswa di haruskan untuk memuat tulisan tersebut dalam blog pribadinya.

 "My First Impression about Filsafat"
Oleh : Nazri Tsani Sarassanti

Berbicara mengenai filsafat, pasti setiap orang memiliki pandangan serta tanggapan yang berbeda. Ada yang beranggapan bahwa filsafat adalah ilmu tingkat tinggi yang hanya dapat dipelajari oleh orang yang ahli dalam bidangnya, atau ada juga yang beranggapan bahwa filsafat adalah ilmu yang berisi tentang perbedabatan mengenai kebenaran Tuhan, dan tidak jarang juga yang beranggapan bahwa filsafat adalah ilmu yang asing karena belum pernah mendengar kata tersebut sebelumnya.

Sebenarnya, tanpa disadari kita sering atau bahkan selalu melakukan kegiatan yang berhubungan dengan filsafat, hanya saja sedikit dari kita yang menyadarinya. Hal itu terjadi karena pada dasarnya kita selalu berfilsafat tanpa membicarakan makna dari filsafat itu sendiri. Sama halnya dengan berpikir, kita tidak pernah membicarakan tentang berpikir namun tanpa kita sadari secara otomatis otak kita akan melakukan kegiatan berpikir setiap saat.

Pengalaman pertama kali saya mengenal filsafat ketika berada di Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Tepatnya ketika saya menginjak semester pertama, saya bertemu dengan mata kuliah Filsafat Umum dengan dosen pengampu Bapak Masykur Wachid. Kesan pertama yang tergambar dalam benak saya ketika pertama kali melihat mata kuliah itu di Kartu Rencana Studi (KRS) saya adalah speechless. Saya diam dan berpikir apa yang nantinya akan dipelajari dalam mata kuliah Filsafat Umum tersebut? Apakah ilmu tentang kebenaran Tuhan? Atau aliran-aliran yang ada pada masa Yunani kala itu?

Sebelum membahas lebih jauh terkait apa saja yang saya dapatkan dari mempelajari filsafat, izinkan saya menceritakan satu hal yang membuat saya speechless pada saat melihat mata kuliah Filsafat Umum dalam KRS saya. Dulu, saya pernah berdiskusi dengan adik kelas saya ketika masih berada di Madrasah Aliyah. Dia ingin sekali melanjutkan pendidikan tingginya di jurusan filsafat UGM. Pada awalnya saya sama sekali tidak respect dengan apa yang dia bicarakan karena memang saya sama sekali tidak tertarik dengan kata ‘filsafat’ itu sendiri. Namun lambat laun setelah dia menceritakan mengenai apa itu filsafat dan bagaimana cara berfilsafat, rasa keingintahuan dan ketertarikan saya perlahan muncul. Dan saya pun mulai mencari dengan menggunakan media search angine tentang pengertian serta makna dari filsafat yang sebelumnya telah diceritakan oleh adik kelas saya tersebut.

Rasa penasaran saya ternyata tidak cukup sampai disitu. Ketika hampir menyelesaikan pendidikan pada jenjang Aliyah yang mana pada saat itu sedang berlangsung pembukaan pendaftaran SPAN-PTKIN, saya melihat banyak selebaran yang menempel di papan pengumuman. Selebaran tersebut berisi daftar Universitas Islam Negeri se-Indonesia beserta jurusan-jurusan yang berada di dalamnya. Entah mengapa pandangan saya seketika tertuju kepada jurusan filsafat di setiap Universitas tersebut, salah satunya yaitu jurusan Filsafat Agama yang berada di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten kala itu. Bahkan saya sempat berpikir, “Apa saya mendaftar di jurusan ini saja?”.

Hingga akhirnya saya pun memutuskan untuk bertukar pikiran dengan salah satu guru yang menurut saya layak untuk diajak berdiskusi mengenai filsafat, selain itu juga karena beliau cukup dekat dengan saya sehingga memudahkan saya untuk bertanya dan meminta pendapat mengenai jurusan filsafat yang sempat terlintas dalam pikiran saya. Namun entah mengapa setelah saya mendengar beberapa penjelasan yang beliau sampaikan, timbul rasa ragu dalam benak saya. Beliau pun memberikan masukan dan saran agar saya sebaiknya tidak mengambil jurusan tersebut dikarenakan beberapa hal, yang mana setelah saya pikir dengan matang semua yang beliau bicarakan ada benarnya. Hingga ketika itu dalam benak saya justru muncul pertanyaan, “Mau apa di filsafat? Mau jadi apa?”. Dari pertanyaan tersebut rasa penasaran dan keingintahuan saya pun surut termakan keraguan.

Saya pikir setelah saya memutuskan untuk tidak jadi mengambil jurusan filsafat, saya tidak akan bertemu atau belajar filsafat. Ternyata saya salah, dengan mendapatkan mata kuliah Filsafat Umum di semester pertama itu, rasa penasaran dan keingintahuan saya yang dulu sempat surut termakan rasa ragu seakan bangkit kembali. Semangat saya untuk belajar filsafat sepeti terbakar lagi. Sungguh penasaran dengan apa yang nantinya akan saya pelajari dalam mata kuliah Filsafat Umum, saya pun memutuskan untuk membeli sebuah buku tentang filsafat sebelum memulai perkuliahan di semester pertama. Dan buku tersebut merupakan buku pertama yang saya miliki ketika duduk di bangku kuliah. Sebuah buku yang berjudul Filsafat Umum Sebuah Pendekatan Tematik karangan Dr. Zaprulkhan, M.Si.

Meskipun sampai saat ini buku itu belum tuntas saya pelajari, namun ada satu bagian yang selalu menyita perhatian saya. Tepatnya pada bagian pertama yang mana membahas mengenai berfilsafat untuk mencari kebijaksanaan hidup. Saya pun menjadi semakin tertarik karena dalam buku ini banyak kalimat-kalimat yang diungkapkan dengan gaya bahasa yang sangat bijaksana. Dalam buku Filsafat Umum Sebuah Pendekatan Tematik karangan Dr. Zaprulkhan, M.Si., cetakan pertama pada tahun 2012 yang diterbitkan oleh Rajawali Press tepatnya pada halaman 3 disebutkan bahwa filsafat berarti mencintai kebijaksanaan; The love and pursuit of wisdom. Di buku ini pun saya menemukan tokoh-tokoh yang memang sudah tidak asing terdengar di telinga saya seperti Plato, Aristoteles, Socrates dan masih banyak yang lainnya. Hanya saja saya baru menyadari setelah membaca buku ini kalau ternyata mereka semua adalah seorang filsuf, yang saya tahu selama ini mereka adalah seorang Ilmuan yang berasal dari Yunani bukan seorang filsuf.

Gary Zukav (2007:3) dalam bukunya yang berjudul Soul to Soul Communication from the Heart mengatakan bahwa We live in a world of meaning. That world is the earth school, the physical arena of our personal and collective experiences. We’re the students. Our experiences are the curriculum. Seperti itulah gambaran wajah dunia untuk orang yang berfilsafat.

Pada bulan Agustus 2016 tepatnya pada hari rabu di jam pertama mata kuliah Filsafat Umum. For the first time, saya dapat belajar filsafat secara formal di dalam kelas dengan seorang dosen yang cukup baik dalam menjelaskan makna filsafat untuk seorang pemula seperti saya dan mungkin juga teman-teman saya di kelas. Pada pertemuan pertama pembahasan masih seputar tentang apa itu filsafat dan untuk apa mempelajari filsafat. Ada kata-kata yang selalu saya ingat hingga saat ini yaitu, “Pelaku filsafat adalah akal dan musuh (atau partner)-nya adalah hati atau rasa.” Sebenarnya saya masih kurang paham dengan maksud dari kalimat tersebut. Yang dapat saya tangkap adalah bahwa kita harus menggunakan atau mengerahkan segala kemampuan dan akal yang kita miliki ketika sedang berfilsafat dan jangan terlalu menggunakan rasa. Karena filsafat adalah sebuah logika atas kebenaran, bukan tentang perasaan yang ada di dalam hati.

Beberapa pertemuan dengan dosen mata kuliah Filsafat Umum pun berlalu. Dan tiba saatnya beliau memberikan tugas kepada kami untuk membentuk suatu kelompok dan mempresentasikan materi yang telah beliau bagikan. Kebetulan, saat itu saya mendapat kelompok pertama yang akan membahas tentang filsafat Helenisme bersama keempat rekan saya, Linda, Azmi, Jumimi, dan Utami. Saat saya mendengar kata ‘Helenisme’ sungguh itu adalah kata yang asing bagi saya. Karena selama saya membaca buku yang saya beli, saya belum menemukan kata atau istilah Helenisme.

Selama rentang waktu penugasan, saya mencoba untuk terus memahami tentang Helenisme. Hingga akhirnya saya dapat menangkap pemahaman bahwa Helenisme itu berasal dari filsafat Hellens (termasuk nama orang) dari kaum Zabaniyah yang mencari kebenaran melalui akal. Yang mana terjadi pada abad ke-6 atau ke-5 sampai akhir abad ke-4 SM ketika pemikiran filsafat hanya di miliki oleh orang-orang Yunani. Namun pada dasarnya filsafat Yunani bukan ciptaan para filsuf Yunani semata-mata, melainkan lebih tepat dikatakan sebagai saingan dari kebudayaan Yunani sebelum masa berfilsafat. Karena filsafat Yunani ada dengan maksud untuk melepaskan diri dari golongan-golongan agama kala itu. Segala yang dapat diterima oleh akal dimasukkan ke dalam filsafat sedang yang tidak dapat diterima oleh akal dimasukkan ke dalam “cerita-cerita agama”. Itulah satu lagi pengetahuan yang saya dapat ketika mempelajari filsafat. Namun, selain itu juga selama saya mempelajari mata kuliah Filsafat Umum di semester pertama saya mendapatkan pengetahuan tentang Renaisans, Humanisme, Rasionalisme, Empirisme, Patristik dan Skolastik.

Saat ini setelah saya memasuki semester keempat, saya kembali bertemu dengan mata kuliah filsafat. Namun bukan Filsafat Umum, melainkan Filsafat Islam dengan dosen pengampu Bapak Ahmad Fadhil, Lc., M.Hum. Bagi saya beliau adalah seorang dosen yang sangat mumpuni dalam bidang filsafat. Mengapa saya dapat berpikir demikian? Karena memang sebelum menuliskan essay ini saya sempat membaca beberapa tulisan beliau di situs blog pribadinya. Tidak hanya itu, saya pun kerap mendengar beberapa kakak tingkat se-jurusan yang mengatakan bahwa beliau memang sangat menguasi materi yang disampaikan di dalam kelas. Terbukti, ketika saya bertanya pada pertemuan pertama dengan beliau, jawaban yang beliau berikan dari pertanyaan saya dapat saya pahami dengan jelas.

Lalu bagaimana kesan pertama saya ketika mendengar kata “Filsafat Islam”? Yang terlintas dalam benak saya adalah pembahasan mengenai Tuhan dan beberapa aliran yang ada di dalam agama Islam, pembuktian antara benar dan salah serta mencari pembenaran dari permasalahan-pemasalahan pelik yang terjadi di dalam Islam.

Namun tidak hanya itu, ternyata Islam pun memiliki beberapa tokoh terkenal seperti Al-Ghazali, Ibnu Sina, Al-Kindi, Al-Farabi dan masih banyak lagi. Sebenarnya saya telah mengenal mereka semua sejak saya berada di Madrasah Aliyah, dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dan wacana Bahasa Arab yang diterjemahkan oleh guru saya. Namun sama halnya dengan para tokoh dari Yunani, saya pun tidak menyadari kalau mereka semua adalah seorang filsuf. Yang saya tahu mereka adalah Ilmuan muslim yang hebat dalam bidangnya. Seperti Ibnu Sina yang ahli dalam bidang kedokteran, Al-Ghazali yang merupakan seorang ulama serta ahli filsafat Islam dan lain sebagainya. Setelah saya mengetahui bahwa mereka semua adalah seorang filsuf sekarang saya menyadari bahwa ternyata Islam memiliki banyak pemikir-pemikir yang tak kalah hebat dengan para pemikir pada masa Yunani.

Selama saya berada di semester keempat saya akan mengikuti perkuliahan Filsafat Isalam. Saya berharap dapat mengikuti perkuliahan ini dengan baik supaya saya lebih mengenal apa yang dimaksud dengan filsafat Islam dan lebih memahami banyak hal tentang Filsafat Islam. Karena pada dasarnya Allah menciptakan akal dalam diri manusia adalah untuk digunakan dengan sebaik mungkin. Jangan sampai di kemudian hari nanti kita menyesal karena tidak menggunakan akal dan mengerahkan segala kemampuan kita saat ini.

Dan mereka berkata, “Sekiranya (dahulu) kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. 67:10).

Itulah sedikit cerita dari pengalaman saya, semoga dapat menginspirasi dan memberikan manfaat  untuk saya khususnya dan umumnya untuk para pembaca yang setia. Saya hanya manusia yang fakir akan ilmu dan pengetahuan, karena sejatinya setiap ilmu dan kebenaran hanya milik Allah Yang Maha Sempurna lagi Maha Mengetahui.

Wallahu A'alam Bishawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Sosok Pendiri Tarekat Sufi Kubrawiyah

Orangtua Cerdas, Anak Berkualitas