My First Impression about Filsafat
Bismillahirrahmanirrahim.
Ini adalah tulisan untuk tugas pertama yang saya dapat ketika mengikuti perkuliahan Filsafat Islam pada semester keempat. Dalam tulisan ini saya ingin sedikit berbagi cerita tentang awal mula saya mendengar kata filsafat hingga perlahan mulai mengenalnya dan apa saja yang telah saya dapat selama mempelajari filsafat tersebut. Salah satu alasan mengapa saya menulis essay ini adalah karena tugas yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah Filsafat Islam. Beliau memberikan tugas kepada para mahasiswa untuk membuat essay yang berisi tentang pengalaman pertama ketika mengenal filsafat yang kemudian setiap mahasiswa di haruskan untuk memuat tulisan tersebut dalam blog pribadinya.
Ini adalah tulisan untuk tugas pertama yang saya dapat ketika mengikuti perkuliahan Filsafat Islam pada semester keempat. Dalam tulisan ini saya ingin sedikit berbagi cerita tentang awal mula saya mendengar kata filsafat hingga perlahan mulai mengenalnya dan apa saja yang telah saya dapat selama mempelajari filsafat tersebut. Salah satu alasan mengapa saya menulis essay ini adalah karena tugas yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah Filsafat Islam. Beliau memberikan tugas kepada para mahasiswa untuk membuat essay yang berisi tentang pengalaman pertama ketika mengenal filsafat yang kemudian setiap mahasiswa di haruskan untuk memuat tulisan tersebut dalam blog pribadinya.
Berbicara mengenai filsafat, pasti
setiap orang memiliki pandangan serta tanggapan yang berbeda. Ada yang beranggapan
bahwa filsafat adalah ilmu tingkat tinggi yang hanya dapat dipelajari oleh
orang yang ahli dalam bidangnya, atau ada juga yang beranggapan bahwa filsafat
adalah ilmu yang berisi tentang perbedabatan mengenai kebenaran Tuhan, dan
tidak jarang juga yang beranggapan bahwa filsafat adalah ilmu yang asing karena
belum pernah mendengar kata tersebut sebelumnya.
Sebenarnya, tanpa disadari kita
sering atau bahkan selalu melakukan kegiatan yang berhubungan dengan filsafat,
hanya saja sedikit dari kita yang menyadarinya. Hal itu terjadi karena pada
dasarnya kita selalu berfilsafat tanpa membicarakan makna dari filsafat itu
sendiri. Sama halnya dengan berpikir, kita tidak pernah membicarakan tentang
berpikir namun tanpa kita sadari secara otomatis otak kita akan melakukan
kegiatan berpikir setiap saat.
Pengalaman pertama kali saya
mengenal filsafat ketika berada di Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan
Maulana Hasanuddin Banten. Tepatnya ketika saya menginjak semester pertama,
saya bertemu dengan mata kuliah Filsafat Umum dengan dosen pengampu Bapak
Masykur Wachid. Kesan pertama yang tergambar dalam benak saya ketika pertama
kali melihat mata kuliah itu di Kartu Rencana Studi (KRS) saya adalah speechless. Saya diam dan berpikir apa
yang nantinya akan dipelajari dalam mata kuliah Filsafat Umum tersebut? Apakah
ilmu tentang kebenaran Tuhan? Atau aliran-aliran yang ada pada masa Yunani kala
itu?
Sebelum membahas lebih jauh
terkait apa saja yang saya dapatkan dari mempelajari filsafat, izinkan saya
menceritakan satu hal yang membuat saya speechless
pada saat melihat mata kuliah Filsafat Umum dalam KRS saya. Dulu, saya pernah
berdiskusi dengan adik kelas saya ketika masih berada di Madrasah Aliyah. Dia ingin
sekali melanjutkan pendidikan tingginya di jurusan filsafat UGM. Pada awalnya
saya sama sekali tidak respect dengan
apa yang dia bicarakan karena memang saya sama sekali tidak tertarik dengan
kata ‘filsafat’ itu sendiri. Namun lambat laun setelah dia menceritakan
mengenai apa itu filsafat dan bagaimana cara berfilsafat, rasa keingintahuan
dan ketertarikan saya perlahan muncul. Dan saya pun mulai mencari dengan
menggunakan media search angine
tentang pengertian serta makna dari filsafat yang sebelumnya telah diceritakan
oleh adik kelas saya tersebut.
Rasa penasaran saya ternyata tidak
cukup sampai disitu. Ketika hampir menyelesaikan pendidikan pada jenjang Aliyah
yang mana pada saat itu sedang berlangsung pembukaan pendaftaran
SPAN-PTKIN, saya melihat banyak selebaran yang menempel di papan pengumuman.
Selebaran tersebut berisi daftar Universitas Islam Negeri se-Indonesia beserta
jurusan-jurusan yang berada di dalamnya. Entah mengapa pandangan saya seketika
tertuju kepada jurusan filsafat di setiap Universitas tersebut, salah satunya yaitu
jurusan Filsafat Agama yang berada di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan
Maulana Hasanuddin Banten kala itu. Bahkan saya sempat berpikir, “Apa saya
mendaftar di jurusan ini saja?”.
Hingga akhirnya saya pun memutuskan
untuk bertukar pikiran dengan salah satu guru yang menurut saya layak untuk
diajak berdiskusi mengenai filsafat, selain itu juga karena beliau cukup dekat
dengan saya sehingga memudahkan saya untuk bertanya dan meminta pendapat
mengenai jurusan filsafat yang sempat terlintas dalam pikiran saya. Namun entah
mengapa setelah saya mendengar beberapa penjelasan yang beliau sampaikan, timbul
rasa ragu dalam benak saya. Beliau pun memberikan masukan dan saran agar saya
sebaiknya tidak mengambil jurusan tersebut dikarenakan beberapa hal, yang mana
setelah saya pikir dengan matang semua yang beliau bicarakan ada benarnya. Hingga
ketika itu dalam benak saya justru muncul pertanyaan, “Mau apa di filsafat? Mau
jadi apa?”. Dari pertanyaan tersebut rasa penasaran dan keingintahuan saya pun surut
termakan keraguan.
Saya pikir setelah saya memutuskan
untuk tidak jadi mengambil jurusan filsafat, saya tidak akan bertemu atau
belajar filsafat. Ternyata saya salah, dengan mendapatkan mata kuliah Filsafat
Umum di semester pertama itu, rasa penasaran dan keingintahuan saya yang dulu
sempat surut termakan rasa ragu seakan bangkit kembali. Semangat saya untuk
belajar filsafat sepeti terbakar lagi. Sungguh penasaran dengan apa yang
nantinya akan saya pelajari dalam mata kuliah Filsafat Umum, saya pun
memutuskan untuk membeli sebuah buku tentang filsafat sebelum memulai
perkuliahan di semester pertama. Dan buku tersebut merupakan buku pertama yang
saya miliki ketika duduk di bangku kuliah. Sebuah buku yang berjudul Filsafat Umum Sebuah Pendekatan Tematik
karangan Dr. Zaprulkhan, M.Si.
Meskipun sampai saat ini buku itu
belum tuntas saya pelajari, namun ada satu bagian yang selalu menyita perhatian
saya. Tepatnya pada bagian pertama yang mana membahas mengenai berfilsafat
untuk mencari kebijaksanaan hidup. Saya pun menjadi semakin tertarik karena
dalam buku ini banyak kalimat-kalimat yang diungkapkan dengan gaya bahasa yang
sangat bijaksana. Dalam buku Filsafat Umum Sebuah Pendekatan Tematik karangan
Dr. Zaprulkhan, M.Si., cetakan pertama pada tahun 2012 yang diterbitkan oleh
Rajawali Press tepatnya pada halaman 3 disebutkan bahwa filsafat berarti
mencintai kebijaksanaan; The love and
pursuit of wisdom. Di buku ini pun saya menemukan tokoh-tokoh yang memang
sudah tidak asing terdengar di telinga saya seperti Plato, Aristoteles,
Socrates dan masih banyak yang lainnya. Hanya saja saya baru menyadari setelah
membaca buku ini kalau ternyata mereka semua adalah seorang filsuf, yang saya
tahu selama ini mereka adalah seorang Ilmuan yang berasal dari Yunani bukan seorang filsuf.
Gary Zukav (2007:3) dalam bukunya
yang berjudul Soul to Soul Communication
from the Heart mengatakan bahwa We live in a world of meaning. That
world is the earth school, the physical arena of our personal and collective
experiences. We’re the students. Our experiences are the curriculum. Seperti itulah gambaran wajah dunia
untuk orang yang berfilsafat.
Pada bulan Agustus 2016 tepatnya pada
hari rabu di jam pertama mata kuliah Filsafat Umum. For the first time, saya
dapat belajar filsafat secara formal di dalam kelas dengan seorang dosen yang
cukup baik dalam menjelaskan makna filsafat untuk seorang pemula seperti saya
dan mungkin juga teman-teman saya di kelas. Pada pertemuan pertama pembahasan
masih seputar tentang apa itu filsafat dan untuk apa mempelajari filsafat. Ada
kata-kata yang selalu saya ingat hingga saat ini yaitu, “Pelaku filsafat adalah
akal dan musuh (atau partner)-nya adalah hati atau rasa.” Sebenarnya
saya masih kurang paham dengan maksud dari kalimat tersebut. Yang dapat saya
tangkap adalah bahwa kita harus menggunakan atau mengerahkan segala kemampuan dan akal yang kita miliki ketika sedang berfilsafat dan jangan terlalu
menggunakan rasa. Karena filsafat adalah sebuah logika atas kebenaran, bukan
tentang perasaan yang ada di dalam hati.
Beberapa pertemuan dengan dosen mata
kuliah Filsafat Umum pun berlalu. Dan tiba saatnya beliau memberikan tugas
kepada kami untuk membentuk suatu kelompok dan mempresentasikan materi yang
telah beliau bagikan. Kebetulan, saat itu saya mendapat kelompok pertama yang
akan membahas tentang filsafat Helenisme bersama keempat rekan saya, Linda,
Azmi, Jumimi, dan Utami. Saat saya mendengar kata ‘Helenisme’ sungguh
itu adalah kata yang asing bagi saya. Karena selama saya membaca buku yang saya
beli, saya belum menemukan kata atau istilah Helenisme.
Selama rentang waktu penugasan,
saya mencoba untuk terus memahami tentang Helenisme. Hingga akhirnya
saya dapat menangkap pemahaman bahwa Helenisme itu berasal dari filsafat Hellens
(termasuk nama orang) dari kaum Zabaniyah yang mencari kebenaran melalui akal. Yang
mana terjadi pada abad ke-6 atau ke-5 sampai akhir abad ke-4 SM ketika
pemikiran filsafat hanya di miliki oleh orang-orang Yunani. Namun pada dasarnya
filsafat Yunani bukan ciptaan para filsuf Yunani semata-mata, melainkan lebih
tepat dikatakan sebagai saingan dari kebudayaan Yunani sebelum masa berfilsafat.
Karena filsafat Yunani ada dengan maksud untuk melepaskan diri dari
golongan-golongan agama kala itu. Segala yang dapat diterima oleh akal
dimasukkan ke dalam filsafat sedang yang tidak dapat diterima oleh akal
dimasukkan ke dalam “cerita-cerita agama”. Itulah satu lagi pengetahuan yang
saya dapat ketika mempelajari filsafat. Namun, selain itu juga selama saya
mempelajari mata kuliah Filsafat Umum di semester pertama saya mendapatkan
pengetahuan tentang Renaisans, Humanisme, Rasionalisme, Empirisme, Patristik
dan Skolastik.
Saat ini setelah saya memasuki
semester keempat, saya kembali bertemu dengan mata kuliah filsafat. Namun bukan Filsafat Umum, melainkan Filsafat Islam dengan dosen pengampu Bapak Ahmad
Fadhil, Lc., M.Hum. Bagi saya beliau adalah seorang dosen yang sangat mumpuni dalam
bidang filsafat. Mengapa saya dapat berpikir demikian? Karena memang sebelum
menuliskan essay ini saya sempat membaca beberapa tulisan beliau di situs blog
pribadinya. Tidak hanya itu, saya pun kerap mendengar beberapa kakak tingkat
se-jurusan yang mengatakan bahwa beliau memang sangat menguasi materi yang
disampaikan di dalam kelas. Terbukti, ketika saya bertanya pada pertemuan
pertama dengan beliau, jawaban yang beliau berikan dari pertanyaan saya dapat
saya pahami dengan jelas.
Lalu bagaimana kesan pertama saya
ketika mendengar kata “Filsafat Islam”? Yang terlintas dalam benak saya adalah
pembahasan mengenai Tuhan dan beberapa aliran yang ada di dalam agama Islam, pembuktian antara
benar dan salah serta mencari pembenaran dari permasalahan-pemasalahan pelik
yang terjadi di dalam Islam.
Namun tidak hanya itu, ternyata
Islam pun memiliki beberapa tokoh terkenal seperti Al-Ghazali, Ibnu Sina,
Al-Kindi, Al-Farabi dan masih banyak lagi. Sebenarnya saya telah mengenal mereka
semua sejak saya berada di Madrasah Aliyah, dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam
(SKI) dan wacana Bahasa Arab yang diterjemahkan oleh guru saya. Namun sama
halnya dengan para tokoh dari Yunani, saya pun tidak menyadari kalau mereka semua
adalah seorang filsuf. Yang saya tahu mereka adalah Ilmuan muslim yang hebat
dalam bidangnya. Seperti Ibnu Sina yang ahli dalam bidang kedokteran, Al-Ghazali
yang merupakan seorang ulama serta ahli filsafat Islam dan lain sebagainya.
Setelah saya mengetahui bahwa mereka semua adalah seorang filsuf sekarang saya
menyadari bahwa ternyata Islam memiliki banyak pemikir-pemikir yang tak kalah
hebat dengan para pemikir pada masa Yunani.
Selama saya berada di semester
keempat saya akan mengikuti perkuliahan Filsafat Isalam. Saya berharap dapat
mengikuti perkuliahan ini dengan baik supaya saya lebih mengenal apa yang
dimaksud dengan filsafat Islam dan lebih memahami banyak hal tentang Filsafat
Islam. Karena pada dasarnya Allah menciptakan akal dalam diri manusia adalah
untuk digunakan dengan sebaik mungkin. Jangan sampai di kemudian hari nanti kita
menyesal karena tidak menggunakan akal dan mengerahkan segala kemampuan kita
saat ini.
“Dan mereka
berkata, “Sekiranya (dahulu) kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu)
tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS.
67:10).
Itulah sedikit cerita dari
pengalaman saya, semoga dapat menginspirasi dan memberikan manfaat untuk saya khususnya dan umumnya untuk para pembaca yang setia. Saya hanya manusia yang
fakir akan ilmu dan pengetahuan, karena sejatinya setiap ilmu dan kebenaran
hanya milik Allah Yang Maha Sempurna lagi Maha Mengetahui.
Wallahu A'alam Bishawab.
Komentar
Posting Komentar