Agar Kebersamaan Tidak Menuai Perselisihan

Sejatinya, manusia adalah makhluk sosial yang pasti membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Di rumah, seorang anak membutuhkan kehadiran ayah, ibu dan kerabat-kerabatnya, begitu pun sebaliknya. Di sekolah, seorang murid pasti membutuhkan sosok guru. Begitu pula seorang guru, ia tidak akan disebut sebagai guru kalau tidak ada murid yang harus diajarinya. Apalagi dalam kehidupan bermasyarakat, setiap individu pasti saling memengaruhi, berinteraksi dan membutuhkan bantuan.

Kehidupan sosial yang kita jalani sudah semestinya dibangun dengan pondasi cinta dan rasa kasih sayang yang kuat. Sebab Islam mengajarkan hal demikian. Dengan kasih sayang, kehidupan bermasyarakat maupun bernegara akan terasa nyaman dan tentram. Memang tidak dapat dipungkiri bahwasannya banyak sekali perbedaan yang terdapat pada setiap manusia. Mulai dari perbedaan fisik, karakter, suku, agama dan ras pasti semuanya berbeda dan tidak ada yang sama. Jangankan seluruh manusia di bumi ini, umat Islam pun tentu memiliki banyak perbedaan. Mulai dari perbedaan pikiran, pendapat, sampai mazhab yang dianut. Namun, bukankah hidup ini menjadi lebih berwarna dengan adanya perbedaan? Dengan adanya perbedaan tersebut kita bisa belajar untuk saling menghormati dan belajar lebih banyak dengan bertukar pikiran, tentunya dengan cara yang baik dan terpelajar. Kita pun harus ingat satu hal bahwa perbedaan yang ada tidak seharusnya mengeruhkan suasana. Biarkan pelangi itu tetap indah dengan berbagai macam warna yang berbeda.

Lalu, bagaimana caranya agar kebersamaan yang penuh dengan perbedaan tersebut tidak menuai perselisihan? Selain berpegang dengan syariat yang benar, ada juga beberapa hal yang perlu diketahui dan menjadi bahan evaluasi diri.

Pertama, aqidah. Aqidah seharusnya menjadi acuan untuk umat semakin bersatu. Kita yang sama-sama menyembah Allah dan meneladani Rasulullah sudah seharusnya paham bahwa perbedaan itu pasti ada, maka cobalah untuk menjadikan perbedaan-perbedaan itu sebagai ragam khazanah yang dimiliki umat. Bukan celah untu membuka peluang perpecahan.

Kedua, ibadah. Dalam aspek ubudiyah (penghambaan), kita semua tunduk dan sujud kepada Allah. Bukankah tujuan dari ibadah kita ini sama? Sama-sama menyembah Allah dan mengharap keridhaan-Nya? Sama-sama menghadap kiblat seperti yang telah dicontohkan Rasulullah? Perkara tata cara yang berbeda karena pedoman mazhab atau ragam bacaan yang dicerna, biarlah itu menjadi urusan masing-masing individu. Sebab kita tidak pernah tahu siapa manusia yang paling mulia dan paling hina di sisi-Nya, bukan? Yang terpenting, perbedaan tersebut jangan sampai menjadi celah untuk setan bertepuk tangan dan ajang untuk saling menjatuhkan.

Ketiga, akhlakul karimah. Berakhlak yang baik adalah sikap sejati yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Dalam Islam, Rasulullah merupakan manusia yang menjadi suri tauladan dan berakhlakul karimah. Sikap Rasulullah yang selalu baik kepada setiap orang bahkan kepada kaum Yahudi sekalipun sudah seharusnya membuka mata dan pikiran kita untuk mencontoh beliau. Namun tidakkah kita melihat saat ini banyak masalah akhlak yang menjadi catatan penting. Apalagi ketika kehidupan dunia maya memiliki daya tarik yang lebih besar dibanding dunia nyata. Sikap buruk bisa dipoles menjadi terlihat sangat baik, begitupun sebaliknya sikap baik justru ternoda oleh fitnah orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Dari sini pula lah ajang untuk saling menjatuhkan, menjelekan serta menyulut api pertikaian dapat dimulai. Oleh karenanya, sudah menjadi tugas kita semua untuk menyadari bahwa akhlak yang baik seperti Rasulullah harus mulai ditanamkan dalam hati, belajar untuk memperbaiki diri dari hari ke hari hingga menjadi pribadi yang berbudi pekerti terpuji.

Keempat, ukhuwah islamiyah. Bila ukhuwah bermasalah bukan sekedar urusan sikap dan bagaimana memperbaikinya, tetapi ini sudah berkaitan dengan iman. Kerena pondasi utama dari sebuah ukhuwah adalah iman dan cinta. Maka, sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga iman dan cinta agar ukhuwah semakin kuat dan terjaga. Saya teringat nasihat Ibnul Jauzi, “Ukhuwah itu iman dan ukhuwah itu cinta. Tanamkan iman di dalam dada, akan bersemi bunga-bunga untuk menjalin persaudaraan yang kian erat. Dan dengan kebersamaan yang tumbuh karena cinta kepada Allah lah yang kelak menjadi saksi ketika menghadap Sang Pencipta.

Terakhir, kebersamaan yang penuh berkah. Akhir inilah yang diharapkan dan menjadi dambaan oleh kita semua. Hidup damai, penuh cinta, kasih sayang dan saling tolong-menolong. Apabila hal tersebut tercapai, suasana persaudaraan akan semakin aman dan tentram. Bahkan Rasulullah pun mengibaratkan bahwa kita ini –manusia yang satu dengan yang lainnya– ibarat satu tubuh. Apabila yang satu merasakan sakit, maka tubuh yang lain pun akan ikut merasakannya.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (QS. 49:11)
Takaran surga dan neraka ada pada hati kita dan yang terwujud dalam perbuatan serta sikap yang bersahaja. (Rochma Yulika)
Wallahu’alam Bishawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Sosok Pendiri Tarekat Sufi Kubrawiyah

My First Impression about Filsafat

Orangtua Cerdas, Anak Berkualitas