Postingan

Time Will Heal

Untuk harapan yang sempat pupus karena keadaan. Untuk mimpi yang harus terhenti karena kondisi. Dan untuk rencana yang tak sempat terlaksana. Kita semua tahu, 2020 bukan tahun yang mudah untuk dilewati. Begitu banyak perjuangan dan pengorbanan yang harus dijalani. Banyak pengusaha yang terpaksa menutup perusahaannya. Banyak pegawai yang terpaksa kehilangan pekerjaannya. Juga tidak sedikit yang harus ikhlas dan menerima kepergian orang-orang yang dicintainya. Mungkin, 2020 adalah tahun terberat. Sebab tak ada satu pun dari kita yang menyangka akan terjebak dalam situasi seperti saat ini. Saat kehidupan berubah dan kita harus siap untuk beradaptasi dengan semuanya. Saat banyak peraturan dan kebijakan yang ditetapkan dan mengatasnamakan ‘demi kebaikan bersama’. Dari hal yang dianggap tak biasa menjadi familier untuk dilakoni dalam waktu lama. Bahkan, sampai hitungan jam 2020 akan berlalu pun semua belum kembali seperti dulu lagi. Kecewa, marah, kesal, sedih. Ya. ak...

Antara Keinginan dan Kebutuhan

Begitu besar cinta Allah kepada makhluk-Nya di muka bumi ini. Salah satu wujud cinta-Nya adalah dengan memberikan kita beribu kenikmatan yang bahkan kita pun tak pernah mampu menghitungnya. Namun bagaimana apabila ada pertanyaan, “ Mengapa Allah tidak mengabulkan doaku? Padahal aku selalu berikhtiar dan memohon kepada-Nya? ” Bukan! Allah bukan sedang mengabaikanmu, Sayang. Allah sebenarnya senang, teramat senang melihat seorang hamba yang terus menerus memohon dihadapan-Nya. Baiknya, memang kita yang harus sejenak merenungkan kalimat ‘penyesalan’ kepada-Nya tadi. Terkadang apa yang kita minta, kita inginkan, dan kita sebut dalam doa tidak terwujud dalam bentuk nyata. Itu semua bukan karena Allah tidak mau atau enggan mengabulkan permintaan kita, tapi justru Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik menurut-Nya. Apa yang menurutmu baik, belum tentu yang terbaik menurut Allah “ Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu men...

Biarpun Chatting-an Tetap Ada Etikanya

Hai .. Wah sudah lama juga ya aku absen ngga posting tulisan di blog ini. Untuk mengisi kegiatan #dirumahaja supaya lebih bermanfaat, kali ini aku mau coba membahas mengenai etika dalam berkomunikasi khususnya komunikasi via text atau bahasa anak hitz -nya sekarang adalah chatting -an. Karena sedang masa quarantine dan semua kegiatan dilakukan via daring/ online , pasti secara tidak langsung kita jadi lebih sering chatting -an dengan orang lain atau sekedar curi-curi waktu untuk membuka sosial media di tengah tuntutan tugas atau kerjaan. Benar ngga? Hmm.., tapi bukan itu sih yang mau aku bahas. Okay, back to topic ! Biarpun chatting -an tetap ada etikanya Yes , seperti judul tulisan ini. Kalian pasti tahu dong yang namanya komunikasi itu harus ada etikanya. Misalnya saja saat kita berbicara dengan orang lain atau orang yang lebih tua deh dari kita, so pasti kita bakal berbicara dengan nada yang tidak tinggi supaya terkesan lebih sopan, kan? Nah itu salah satunya. ...

Mengenal Bystander Effect

Pernahkah kamu berada dalam situasi di mana seorang nampaknya membutuhkan bantuanmu, tetapi kamu tidak menolongnya? Kamu merasakan keraguan dan justru berpikir orang-orang di sekitarmu yang akan menolong orang tersebut? Hati-hati bisa jadi itu yang dinamakan bystander effect . Bystander effect dapat diartikan sebagai situasi di mana orang hanya memilih untuk menjadi pengamat atau menyaksikan sesuatu yang terjadi tanpa melakukan tindakan apapun untuk membantu atau mencegahnya. Bystander effect merupakan fenomena dalam psikologi sosial yang dikemukan oleh Bibb Latan é dan Jon Darley karena kasus pembuhuhan Catherine “Kitty” Genovese pada 1964 di New York City. Salah satu fenomena bystander effect yang sering ditemukan saat ini yaitu ketika terjadi kecelakaan. Bukannya menolong, orang-orang yang menghentikan kendaraannya justru hanya menonton korban dan berpikiran kalau ada orang lain yang akan menolongnya. Namun, karena semua yang menonton berpikir demikian, alhasil tidak ada...

Are you people pleaser?

Menjadi people pleaser atau orang yang kerap menyenangkan orang lain sekilas terdengar positif ya? Tapi ternyata tak selamanya menjadi people pleaser itu positif lho. Pasalnya, beberapa tindakan yang dilakukan people pleaser dapat berdampak buruk khususnya bagi diri mereka sendiri. People pleaser adalah sebutan bagi orang yang selalu berhasrat untuk meyenangkan orang-orang di sekitarnya dan cenderung melakukan segala hal supaya tidak mengecewakan mereka. Menurut seorang psikolog, Susan Newman , people pleaser akan meletakkan kepentingan orang lain di atas kepentingan mereka sendiri. Untuk menyenangkan orang lain, people pleaser harus mengorbankan kepentingan dan menomor sekiankan prioritas dalam diri mereka. Godaan menjadi people pleaser tentunya dapat menjadi halangan utama untuk mencintai diri mereka sendiri. Pasalnya meskipun menjadi orang yang disukai, tetapi menjadi people pleaser akan membuat mereka mudah dimanfaatkan orang lain. Well , untuk mengetahui pe...

Self-care; Sebuah Cara untuk Peduli Terhadap Diri Sendiri

“Sebelum peduli terhadap orang lain, terlebih dahulu kita harus peduli terhadap diri sendiri.” Terdengar egois? Sebagian orang memang berpikir demikian. Tapi tahukah kalau idealnya memang kita harus peduli terhadap diri sendiri sebelum peduli terhadap orang lain. Sebab sikap kita terhadap orang lain tanpa disadari adalah bentuk dari refleksi terhadap diri kita sendiri. Self-care dapat membantu kita untuk tetap sehat baik secara fisik maupun mental. Selain itu self-care juga membantu kita untuk menghargai dan mencintai diri sendiri lebih dalam lagi. Seberapa penting self-care untuk diri kita? Apabila ada pertanyaan demikian maka jawabannya “sangat penting”. Diri kita membutuhkan perhatian dan perawatan baik dari segi fisik maupun mental guna menjadi pribadi yang lebih positif dan produktif. Apalagi di tengah aktivitas yang semakin padat dan membuat penat. Dengan terbangunnya self-care , kita bisa merasakan tumbuh dan berkembang dengan cara yang lebih santai dan bahagia. B...

Menata Hati, Introspeksi Diri

Bukan hanya aplikasi, iman juga perlu di- upgrade lho إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ Iman berarti percaya atau membenarkan (segala sesuatu yang tidak kasat mata). Lebih dari itu, iman juga bisa diartikan sebagai sebuah kepercayaan yang harus diucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan perbuatan. Secara dong , setiap kepercayaan dan pembenaran perlu ada bukti yang menguatkan bukan? Ya, begitu pun dengan iman. Dalam Al-Aqidah Ath-Thahawiyah , Imam Ath-Thahawi menyatakan bahwa iman adalah pembenaran dengan hati, ikrar dengan lisan dan amalan dengan seluruh anggota badan. Jadi, menurutnya kesempurnaan iman dapat tercapai apabila ketiga hal tersebut telah ada dalam diri seseorang. Bukan hanya aplikasi, iman juga perlu di- upgrade lho . Mengapa ya? Apakah keimanan dalam diri seseorang akan ‘kadaluarsa’ ? layaknya aplikasi yang tidak bisa dibuka kalau tidak di- upgrade ? Ya, kita perlu sadar kalau kita ini hanyalah manus...