Biarpun Chatting-an Tetap Ada Etikanya

Hai.. Wah sudah lama juga ya aku absen ngga posting tulisan di blog ini. Untuk mengisi kegiatan #dirumahaja supaya lebih bermanfaat, kali ini aku mau coba membahas mengenai etika dalam berkomunikasi khususnya komunikasi via text atau bahasa anak hitz-nya sekarang adalah chatting-an.

Karena sedang masa quarantine dan semua kegiatan dilakukan via daring/online, pasti secara tidak langsung kita jadi lebih sering chatting-an dengan orang lain atau sekedar curi-curi waktu untuk membuka sosial media di tengah tuntutan tugas atau kerjaan. Benar ngga? Hmm.., tapi bukan itu sih yang mau aku bahas. Okay, back to topic!

Biarpun chatting-an tetap ada etikanya

Yes, seperti judul tulisan ini. Kalian pasti tahu dong yang namanya komunikasi itu harus ada etikanya. Misalnya saja saat kita berbicara dengan orang lain atau orang yang lebih tua deh dari kita, so pasti kita bakal berbicara dengan nada yang tidak tinggi supaya terkesan lebih sopan, kan? Nah itu salah satunya.

Tapi kalian pernah berpikir ngga kalau ternyata etika dalam berkomunikasi itu tidak hanya saat kita berhadapan langsung dengan lawan bicara atau komunikasi langsung, melainkan juga saat komunikasi tidak langsung misalnya saat chatting? Kalau pernah, mari kita bergandengan tangan, kita satu server. Et.., physical distancing ya lupa haha.

Kalau buat aku pribadi sih yang namanya etika itu perlu banget dan harus jadi nomor satu, terlebih saat berkomunikasi. Why? Ya karena menurutku komunikasi itu salah satu hal yang paling penting dan mendominasi dalam kehidupan kita. Jadi, mau saat berkomunikasi langsung atau chatting, attitude it’s very important.

Dengan mengedepankan etika, secara ngga langsung kita juga bisa belajar untuk menghormati atau menghargai lawan bicara kita. Pasti kalian pernah dong dengar kalimat ini, “kalau mau dihargai ya harus belajar untuk menghargai” kan? That’s point!

Etika seperti apa sih yang dimaksud saat chattingan? Bukannya saat chattingan kita tak perlu mengaktifkan ‘mode sensitive’ pada diri kita ketika membaca pesan dari orang lain? That’s true, memang kita ngga perlu aktifkan mode tersebut. But, ingat, etika di sini bukan termasuk bagian dari ‘mode sensitive’ itu lho. Etika yang dimaksud adalah:

Pertama, saat memulai chatting tolong usahakan jangan menggunakan huruf “P”. Kalau aku liat quote receh di twitter sih orang yang memulai chat pakai huruf ini adalah calon penghuni neraka jalur undangan wkwk, peace. Eh engga, serius deh, karena apa sih maksud dari “P” itu? Nge-PING atau nge-test? Iseng amat, mending ngga usah nge-chat deh. Coba biasakan untuk memulai chat dengan salam atau kalau memang dinilai terlalu formal ketika mau mulai chat sama teman sejawat ya minimal panggilah namanya supaya ia juga merasa dihargai. Pastinya teman kalian kan juga punya nama kan? Kadang tuh seseorang bukannya ngga mau bales pesan kalian yang “P” doang, tapi males atau kadang karena dinilai ngga penting alhasil tertimbun oleh chat lain yang lebih penting.

Kedua, biasakan ucap kata maaf, tolong dan terima kasih ketika kamu membutuhkan informasi dari orang lain atau diberi informasi oleh orang lain. Kebayang ngga sih gimana kesalnya kalau ada orang yang nge-chat dan sudah kita balas panjang x lebar x tinggi tapi ujung-ujungnya cuma di-read tanpa ada basa-basi sedikit pun. Padahal di situ posisinya kita lagi sibuk dan menyempatkan buat balas chat dari doi? Ya, sebenarnya ngga masalah juga sih, tapi kurang etis aja gitu. Paling ngga ya bilang “Ok, makasih ya.” simple kan? Biar sama-sama enak aja gitu lho.

Ketiga, ini masih ada sangkut pautnya sama yang kedua yaitu jangan sampai membiasakan budaya “cuma nge-read”. Haha serius deh yang ketiga ini adalah yang paling menyebalkan sedunia. Ya, okelah cuma di-read kalau emang sudah ngga ada apa-apa yang harus dibahas, misalnya pesan yang isinya “terima kasih atau sama-sama”, sticker atau emoticon.  Tapi ini kadang yang di-read adalah pesan yang masih membutuhkan jawaban atau tanggapan serius. Kita mah nungguin balesan sampai lumutan tapi ngga tau deh karena kelupaan atau ketumpuk chat lain alhasil cuma di-read. Yaudah, sabar daripada ngga di-read terus chat-nya didiemin sampai dingin wkwk.

Aku sendiri juga pernah kok jadi pelaku dari salah satunya atau bahkan ketiganya dan sekaligus menjadi korban juga. Tapi semakin ke sini aku semakin berpikir dan mulai mencoba untuk ngga membiasakan hal tersebut lagi. Ya memang untuk sebagian orang hal tersebut dianggap sepele dan “yaudah sih dipikirin amat”. Et tapi kita juga harus lihat dari kacamata orang lain, ada lho orang yang ngga suka digituin. Kita juga harus paham kan, ngga semua sifat orang sama dan ngga semua orang seperti apa yang ada di pikiran kalian.

Okelah, kalau kalian chatting dengan doi atau orang yang sudah dekat. Tapi ingat jangan samakan satu orang dengan orang lainnya. Beda orang beda kepala, beda kepala beda pemikiran hehe.

Hmmm.., tapi nyatanya setelah aku coba untuk membiasakan membuang ketiga hal tersebut, chatting-an menjadi lebih seru. Ikuti aturan main untuk awal membuka percakapan, terlepas di tengah perbincangan kita mau bahas hal apapun atau dengan bahasa nyeleneh sekalipun, kalau sudah dimulai dengan hal baik pasti tetap menyenangkan dan pastinya ngga bikin gondok salah satu pihak.

So, pastikan kita bisa lebih menghargai orang lain sekalipun kita sedang tidak berhadapan langsung dengan orangnya ya. Belajar menghormati sebelum dihormati dan mulailah untuk menghargai sebelum ingin dihargai. Semoga bermanfaat yaa.

Thank youuuuuu<3!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Sosok Pendiri Tarekat Sufi Kubrawiyah

My First Impression about Filsafat

Orangtua Cerdas, Anak Berkualitas