Ku Nanti Kau di Sudut Dermaga
Sekali lagi, satu senja lagi. Dengan
sinar jingga yang membias ke mega merah. Dan garis
cakrawala yang membentang diujung samudera. Masih disudut dermaga,
berdua, dengan perasaan yang dirundung duka. Aku masih meratapi semuanya, meratapi hal yang semestinya tak lagi terjadi
padaku. Aku masih bersiteru dengan kenyataan, kenyataan yang semestinya tak
lagi kualami. Dan aku masih mempertanyakan semuanya. Mempertanyakan janji-janji
yang dulu ia ucapkan, janji-janji yang kini seakan mengekor bersama mentari
yang tenggelam di ufuk barat. Entah, bagaimana aku menjelaskan perasaanku saat
ini. Perasaan yang seperti tak mengenal tuannya, dan tak mengetahui kemana
arahnya.
Satu,
dua kapal ferri melintasi lautan dihadapanku. Besar, nan gagah bentuknya. Entah
mengapa tiba-tiba saja pelupuk mata ini seakan merasakan gerimis kesedihan. Ya,
aku mengingat sesuatu. Dulu, dia pernah berjanji akan mengajakku datang ke
dermaga ini untuk melihat kapal-kapal besar yang melintasi lautan dengan gagah.
Namun lagi-lagi, kini ku pertanyakan janji-janji nan manis itu? Kemana ia
hendak melabuhkan semuanya? Kemana ia hendak kemudikan kapalnya?
Senja
kian menua. Mentari pun kian menyusut, yang terlihat kini hanya tinggal
seperempatnya saja. Burung-burung sudah terbang membentuk formasi untuk kembali
ke sarangnya. Satu persatu nelayan pun sudah mulai menepikan perahu kecilnya. “Aku
akan kehilangan sang senja seperti aku kehilangan bayangannya.” desahku pelan,
tertahan oleh isak tangis yang mulai pecah. Tangisanku mengalahkan gemuruh
ombak senja itu. Mengalahkan teriakan para nelayan yang menyeru kerabatnya
untuk menepi.
Aku
masih terpaku pada satu titik.
**
“Mengapa kau pergi? Mengapa kau
menghilang? Mengapa kau tak memberiku sepucuk surat atau setangkai pesan?”
“Maafkan aku yang meninggalkanmu.
Aku begini bukan tanpa alasan. Aku sungguh mencintaimu, teramat mencintaimu. Bidadariku,
yang telah mengisi kehampaan relung hatiku.” Tutur kata yang aku rindukan
“Alasan apa itu?” ucapku
“Aku harus mengejar impian yang
sudah lama kuharapkan.”
“Tidak bisakah aku ikut denganmu?”
pintaku
“Tidak sayangku. Cepat atau lambat
aku akan menghubungimu lagi, pasti. Percayalah.”
Air mata melepas kepergiannya. Yang
kuharapkan semoga ia selalu bahagia dan dapat meraih segala yang menjadi
harapannya. Tidak munafik, layaknya manusia yang butuhkan udara dan ikan yang
butuhkan air. Akupun begitu, membutuhkannya untuk kembali sesegera mungkin.
Karena ada rindu yang menggebu ketika ia jauh, ada sesak ketika ia tak memberi
kabar, ada gundah ketika sosoknya tak lagi kulihat.
Masih ku ingat ucapan terakhirnya
kepadaku. Masih ku rasa getaran indah ketika terakhir menatapnya. Masih ku
hayati tiap detik nan bahagia ketika berada disampingnya. “Percayalah.” Satu
kata terakhir darinya yang selalu memenuhi pikiranku. “Percayalah.” Ucapan
lembut yang mengalunkan simfoni damai di relung hati. “Percayalah.” Yang ku
tahu, ada satu keyakinan dalam jiwaku yang selalu bersemayam disetiap
langkahnya.
Cinta..
Jika
cinta mengajarkan sebuah kekuatan maka itu berarti ada setitik kerapuhan
darinya
Cinta..
Jika
cinta mengajarkan sebuah kesetiaan maka itu berarti ada segaris pengkhianatan
darinya
Cinta..
Jika cinta
mengajarkan sebuah kesabaran maka, aku akan bersabar untuk cinta. Untuk orang
yang kucinta.
Puluhan malam telah kulalui
tanpanya. Tanpa ia yang dahulu menjadi lentera penerang tidurku, pendongeng
pengantar lelapku. Kerap kali ku buka pesan terakhir darinya diponselku, namun tiap
kali kulakukan hal itu aku merasa bayangannya kian kuat memeluk rinduku. Ketika
ponselku bergetar aku selalu berharap itu getaran darinya, getaran rindu yang
ia isyaratkan melalui sebuah pesan singkat. Namun, pengharapanku selalu
menyisakan titik semu.
Bintang
gemintang, andaikan ia yang jauh disana melihat sinarmu
Sampaikanlah
hasrat rindu dari dasar qalbu
Kian
meredup tanpa secercah sinar
Kian
tandus tanpa segelintir butiran segar
Kalender yang menggantung di sudut
kamarku kini perpijak tepat di tanggal 30. Ada sebuah kenangan yang mendalam
disitu. Kenangan yang membawaku dari hulu kerapuhan ke hilir pengharapan. Dulu,
dengannya selalu ada sebuah keistimewaan ketika kami berhasil sampai pada
tanggal ini. Harapan nan indah dan ungkapan sayang selalu membelai lembut
perasaan. Sampai aku merasa tak ingin melangkah ke hari esok, karna esok bukanlah
tanggal yang kami istimewakan.
“Hatiku nan jauh disana, apa
kabarmu? Kapan kah kau hendak menghubungiku?” tanganku lembut mengelus tanggal
yang sudah terlingkari oleh tinta merah. Kristal bening mulai menganak sungai
di pipiku. “Percayalah.” Kata terakhirnya seakan berdengung di gendang
telingaku. “Percayalah.”
“Hatiku, kepercayaan ini bukan
tidak berujung. Hanya saja, kepercayaan ini seakan terkalahkan oleh kenyataan.
Bagaimana, Hatiku?” Aku terduduk lemah mengingat setiap kepingan kenangan yang
tertinggal pada tanggal itu.
Bagaimana
sang kepercayaan dapat mentahtai
Ketika
sang kenyataan sudah merajai
Percaya
ku inginnya tak terbatas
Karna
ku tahu sudah kau gandrungi kepercayaanku dengan harapanmu
Namun
kenyataan kian memantulkan jawaban semu dari sang harapan
Sehingga
kepercayaan kian memudar pantulannya
Terbang..
Melayang..
Kabar burung tentangnya yang
menyesakkan hati perlahan mulai memanah perasaanku. Satu, dua teman dekatnya
mulai membisikkanku hal-hal yang tak ingin ku dengar. Teman dekatnya berkata
padaku, bahwa ia sudah tak lagi butuhkanku dan ia sudah bahagia ketika jauh
dariku. Bungkamku dibuatnya. Seperti sudah terhempas ke dasar samudera rasanya.
“Bagaimana bisa?” lirihku. “Percayalah.” Kata terakhir itu kembali berdengung
di gendang telingaku. “Percayalah.”
Ku tabahkan hati, ku kuatkan
perasaan untuk menepis kabar burung tentangnya itu.
Aku sudah lama mengenalnya, bukan
hanya sehari – dua hari namun bertahun-tahun. Dia adalah lelaki yang ku temui beberapa tahun lalu,
yang dulu sempat menyatakan perasaan cintanya kepadaku. Meski kami tak ingin
memiliki hubungan apapun, namun kami selalu terikat janji tuk saling mengasihi
dan menyayangi. Bersamanya aku terjerat dalam jaring-jaring asmara, berdua
dengannya aku mulai merajut kasih dan menjalin cinta. Dia yang membuatku selalu
tersenyum tanpa alasan dan menangis tanpa sebab. Dia yang sudi mengais
sisa-sisa kepingan hatiku yang dulu terpecah ketika tak bersamanya. Dia yang
menunjukkan ku keajaiban sebuah senja, “Senja hanya akan pergi tidak
menghilang.” Begitu ucapnya. Dia lelaki yang sudah menumbuhkan sebuah pohon di
tanah yang tandus. Dia itu, yang buatku berani tuk berkata “Aku mencintaimu
dengan segenap kekuranganmu dan kelebihanmu.”
Ia
datang dengan segenggam benih
Kemudian
duduk berlutut diatas yang tandus
Ia
tebar benihnya, lalu ia airi dengan kasih
Memupuk
dan merawatnya halus
Hingga
tumbuh dan mewangi
Ialah
yang berhak atasnya
Berhak
memeluk dan memilikinya
Aku sudah tiba dipenghujung tahun.
Sudah ku lewati satu tahun tanpanya. Senyum sepanjang tahun yang terasa hambar
tanpa sang empunya. Tawa yang terasa masam tanpa hadirnya. Tak ku lewatkan satu
hari tanpa tangisan untuknya disepanjang tahun ini. Tangis yang satu persatu
mengugurkan dedaunan. Berharap sang daun yang gugur akan tertiup angin dan
terjatuh di hadapannya. Agar ia dapat mengetahui bahwa disni aku sangat merasa
kehilangannya dan sangat merindukannya.
Kabar burung itu kembali bersua.
Entah bagaimana bisa, kesabaranku tuk menantinya seperti tinggal seujung kuku
ketika ku dengar kabar itu. Kepercayaanku yang selalu pasang seketika surut dan
mengering.
“Lebih baik kau menghubunginya,
atau kau kirimkan surat kepadanya.” Begitu saran teman penaku. Ku iyakan
sarannya tanpa banyak berkomentar. Hatiku memang seperti sudah tidak sabar
hendak meluapkan segala kegundahan yang menyesakkan ini.
Sesampainya dikamar, ku sobek
secarik kertas dan mulai menuliskan segala kegelisahan, dan kegundahan yang
terpendam. Tak habis kata yang ku tuangkan untuknya melalui sepucuk surat itu.
Ku rangkai kata demi kata agar tetap indah kalimat didalamnya. Sungguh, inilah
surat pertama yang kutuliskan dengan deraian air mata. Ku titipnya sepucuk
surat itu kepada teman dekatnya. Harap harap cemas kunanti balasan darinya,
semoga saja ia tak setega lelaki kemarin sore yang sudah memporak-porandakan
perasaanku dulu.
Tak perlu menunggu lama rupanya.
Malam ini ponselku bergetar dan ternyata itu getaran darinya. Sebuah pesan
singkat yang sudah lama ku damba. Berdebar bukan main dada ini ketika membuka
pesan darinya, berharap sesegera mungkin hal indah itu bisa terulang kembali.
Deg! Jemariku seakan kaku, mulut
serasa bungkam, dan mata enggan berkedip. Membelalak membiarkan kristal bening
menetes diatas layar ponselku.
Maafkan
aku yang telah lama membiarkanmu dalam duka. Maafkan karena aku telah membuatmu
terluka. Aku ingin sendiri untuk beberapa waktu ini bidadariku. Aku belum ingin
menghubungimu lagi untuk saat ini. Aku ingin fokus dengan apa yang sedang aku
jalani. Maafkan, mungkin aku tidak bisa menepati janji-janji yang sempat
terucap dihadapanmu, bidadariku. Maafkan aku yang terlalu jahat kepadamu.
Membuatmu merasakan luka yang sama untuk kedua kalinya. Namun, ditempat ku
berpijak dengan segenap rasa yang kumiliki. Percayalah, aku tetap mencintaimu.
Ku izinkan kau jika hendak membenci dan mecaci ku. Ku maklumi luka hati mu yang
teramat menusuk karena sikapku. Bidadariku, terimakasih telah ajari aku
bagaimana caranya memupuk kesabaran dan menebar ketabahan. Yakinlah sayang,
jika cinta kita abadi, maka sang pemilik cinta yang hakiki kelak akan
mempersatukannya nanti.
Bagaimana bisa aku percaya dengan
kenyataan yang saat ini ada dihadapanku. Bagaimana caranya aku bisa menerima
semua yang terjadi secepat ini. Tidak akan ada asap kalau tidak ada api, begitu
pepatah berkata. Namun, yang terjadi kini tanpa sebab yang jelas bahkan tanpa
ada pembicaraan lugas. Wahai sang pemilik cinta sanggupkah aku menjalani
hari-hariku tanpa sang mentari? Gelap kan terus menyergap kurasa. Sanggupkah
aku menapaki alur kehidupan tanpa sang udara? Terisak sesak dadaku sepertinya.
“Aaaaaahhhhhhhh….” Teriakkan ku menggetarkan
seisi ruangan. Sungguh bagaimana bisa aku membencinya, padahal dahulu ia adalah
sosok yang sangat kucinta.
Benarkah yang orang bilang?
Seseorang yang amat kau cinta dapat menjadi seseorang yang amat kau benci suatu
saat nanti begitupun sebaliknya.
Entah
bagaimana orang menafsirkan cinta
Sedang
yang ku tangkap cinta itu suci dan tak menyakiti
Bagaimana
bisa cinta berubah jadi benci
Sedang
mereka dua perasaan yang berbeda
Yang
dahulu berdekatan kini bercanggungan
Yang
dahulu bercumbu dalam asmara kini bersiteru dalam amarah
Begitukah?
Lalu
bagaimana kalian menafsirkannya
Atau
mungkin cinta dan benci jaraknya hanya setipis benang saja?
**
Diujung dermaga kini tinggalah aku
bersama sinar samar sang rembulan. Rembulan sebagai saksi indah bagaimana sang
Illahi memutarbalikkan alam. Seperti yang saat ini sedang ku alami. Dermaga ini
menjadi saksi bisu bagaimana sang pemilik cinta yang hakiki memutarbalikkan
perasaan. Cintaku surut menjauh dari tepian dan kembali pasang dengan membawa
kebencian?
“Ketika tiba saat perpisahan,
janganlah kau membencinya. Ikhlaskanlah demi kebahagiaannya, karena kau tidak
pernah tau dimana letak kebahagiaannya. Tabahkanlah perasaanmu meski berduka.
Kuatkanlah hatimu meski terluka. Sebab apa yang paling kau kasihi darinya akan
tampak lebih nyata dari kejauhan. Layaknya gunung yang akan lebih indah jika
dilihat dari daratan.”
Komentar
Posting Komentar