The Alchemist of Happiness
Bismillahirrahmanirrahim.
“Sejak usia mudaku hingga menjelang lima puluh, sampai kini saat
aku melebihi lima puluh tahun. Aku dengan nekat menerjang kedalaman samudera.
Aku selalu bertolak menuju laut lepas. Mengesampingkan seluruh rasa cemas. Aku menghujam
setiap ceruk gelap. Aku telah menggempur setiap masalah. Aku telah menerjuni
setiap palung. Aku telah menelaah keyakinan dari setiap aliran. Aku telah
berupaya menelanjangi doktrin terdalam dari setiap umat. Semua ini ku lakukan
agar dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, antara tradisi masuk
akal dan bid’ah munkar.” – Al-Ghazali.
Diproduksi oleh Ovidio Salazar, film yang ditampilkan dalam bahasa
Inggris dan berdurasi waktu selama 01:19:11 ini berjudul The Alchemist of
Happiness. Diperankan oleh beberapa aktor seperti Ghorban Nadjafi, Dariush
Arjmand, Mitra Hajjar, Abdol Reza Kermani, Ali Mayani, Robert Powell dan
Muhammad Poorsattar ini mengisahkan tentang perjalanan Al-Ghazali dalam
mengabdikan hidupnya untuk menyelidiki rahasia keperiadaan dengan mengatasi
keraguan falsafinya hingga mencapai pencerahan spiritual. Karena puncak di
dalam diri manusia tidak cukup hanya dengan aktualisasi diri yang di dominasi
nafsu duniawi melainkan kesadaran diri mengenai Tuhan, keberadaan Tuhan dalam
diri dan spiritualitas.
Di awal cerita terdapat seorang lelaki yang tidak diketahui namanya, ia ingin memahami jejak Ghazali. Ia berkunjung di sebuah kota bernama Thus, tepatnya di Penjara Harun yang disebut-sebut sebagai tempat pemakaman Ghazali. Lelaki tersebut didampingi oleh Mohammad Yahagi, Lecturer, Persian Literature Mashad University yang menjelaskan bahwa yang selama ini disebut sebagai pusaran Ghazali hanyalah tugu pusaran saja, karena sebenarnya keberadaan makam asli Ghazali masih dipenuhi kemisteriusan.
Di awal cerita terdapat seorang lelaki yang tidak diketahui namanya, ia ingin memahami jejak Ghazali. Ia berkunjung di sebuah kota bernama Thus, tepatnya di Penjara Harun yang disebut-sebut sebagai tempat pemakaman Ghazali. Lelaki tersebut didampingi oleh Mohammad Yahagi, Lecturer, Persian Literature Mashad University yang menjelaskan bahwa yang selama ini disebut sebagai pusaran Ghazali hanyalah tugu pusaran saja, karena sebenarnya keberadaan makam asli Ghazali masih dipenuhi kemisteriusan.
Dilahirkan pada tahun 1058 di Thus Kurasan yang berada di Timur laut Iran, Ghazali dipandang sebagai salah satu dari lima atau enam pemikir yang paling berpengaruh dalam sejarah kemanusiaan. Dijelaskan oleh T.J. Winter, Lecturer, Islamic Studies Cambridge University bahwa Khurasan pada masa Ghazali merupakan tempat yang paling produktif di wilayah tersebut. Di Khurasan, prinsip awal tasawuf dijabarkan dan dijadikan metode agar setiap muslim bisa kembali ke spiritualitas asli di inti keimanan. Ghazali memperlihatkan bahwa jantung keimanan dan setiap amalan Islam ada makna spiritual dan proses tobat serta perbaikan dan hijrah. Itulah sebabnya ia disebut sebagai “Bukti Islam” (Hujjatul-Islam).
Film ini juga menjelaskan tentang kodrat manusia dan keadaan
dasarnya yaitu kehampaan dan ketidaktahuan akan dunia gaib. Manusia mendapatkan
pengetahuan melalui organ duniawi, seperti indra perabaan yang membatu untuk
merasakan kenyataan mengenai panas dan dingin, basah dan kering serta halus dan
kasar, kemudian indra pengelihatan yang dapat mencerap warna dan bentuk, lalu
indra pendengar, indra pengecap dan indra pembau. Selain itu, manusia diberi
nalar yang lebih kompleks dari sekedar indrawi. Nalar digunakan untuk memahami
hal-hal yang bersifat abstrak, membedakan suatu hal yang logis dan tidak logis,
yang mungkin dan mustahil, hingga kepada hal di luar jangkauan nalar (hal
gaib).
Pada usia sekitar tujuh tahun, Ghazali dan adiknya ditinggal wafat oleh ayahnya. Mereka dititipkan kepada teman terpercaya ayahnya, seorang wali shufi (seorang faqir).
Pada usia sekitar tujuh tahun, Ghazali dan adiknya ditinggal wafat oleh ayahnya. Mereka dititipkan kepada teman terpercaya ayahnya, seorang wali shufi (seorang faqir).
“Semoga para murid meyakini bahwa ia lebih berhutang budi kepada
guru daripada kepada Ayah.
Sebab guru menuntunnya kepada kehidupan yang abadi. Sementara ayah, adalah sebab
bagi kehidupan fananya.”
Seperti yang dipaparkan oleh Shaykh Hamzah Yusuf, Lecturer, Zaytuna
Institute bahwa dalam pernyataan tersebut Ghazali ingin menekankan tentang
gagasan “Keadabdian Illahiah”, tentang yang pasti datang dan apa yang fana serta
abadi. Ayah hanya memberi kehidupan untuk perjalanan duniawi, ia tidak memberi
sarana untuk melintasi dunia ini. Sedang untuk melintasi dunia, seseorang
membutuhkan guru untuk menuntun perjalanan abadinya.
Dikenal sebagai anak ajaib, Ghazali sudah hafal teks standar pada usia dini dan menghabiskan seluruh peluang intlektual di kotanya pada awal remaja. Ia menimba ilmu ke Nisyapur di kelas Al-Juwaini. Pengetahuan yang diserapnya berbasis konsep Islam “Tauhid” melalui kerangka berpikir. Ia pun memiliki banyak pandangan terkait keperiadaan manusia, mulai dari fitrah manusia, tujuan ia diciptakan hingga terus naik kepada realitas puncaknya yaitu kesadaran spiritual.
Dikenal sebagai anak ajaib, Ghazali sudah hafal teks standar pada usia dini dan menghabiskan seluruh peluang intlektual di kotanya pada awal remaja. Ia menimba ilmu ke Nisyapur di kelas Al-Juwaini. Pengetahuan yang diserapnya berbasis konsep Islam “Tauhid” melalui kerangka berpikir. Ia pun memiliki banyak pandangan terkait keperiadaan manusia, mulai dari fitrah manusia, tujuan ia diciptakan hingga terus naik kepada realitas puncaknya yaitu kesadaran spiritual.
Seiring waktu nama Ghazali pun semakin dikenal banyak orang. Ia
mencapai puncak aktualisasi diri dengan baik. Kekayaan, status, kemapanan dan kepopuleran
telah ia kantongi. Tetapi, di suatu waktu timbul kekhawatiran dalam dirinya, ia
seakan ingin menjadi apa adanya dan menyadari betapa palsu dirinya. Ia merasa apa
yang telah teraktualisasikan tidak cukup menjawab tentang siapa diri ia
sebenarnya. Ghazali kemudian jatuh sakit, tiada seorang tabib pun yang dapat
mengobatinya, karena penyakit itu menyerang jiwanya.
Akhirnya Ghazali memutuskan untuk pergi meninggalkan istri dan anak-anaknya, hartanya, jabatannya dan segala hal duniawi yang ia miliki untuk berkelana menemukan keyakinan realitas Illahiah. Sampai ia kembali ke tempat asalnya dengan keyakinan Illahiah dan puncak spiritualitas yang tidak tergoyahkan, menyadari bahwa semua ilmu, harta dan tahtanya selama ini ia miliki hanya titipan dari-Nya. Setelah mencium kafannya, Ghazali pun kembali menghadap Sang Illahi untuk selamanya.
Akhirnya Ghazali memutuskan untuk pergi meninggalkan istri dan anak-anaknya, hartanya, jabatannya dan segala hal duniawi yang ia miliki untuk berkelana menemukan keyakinan realitas Illahiah. Sampai ia kembali ke tempat asalnya dengan keyakinan Illahiah dan puncak spiritualitas yang tidak tergoyahkan, menyadari bahwa semua ilmu, harta dan tahtanya selama ini ia miliki hanya titipan dari-Nya. Setelah mencium kafannya, Ghazali pun kembali menghadap Sang Illahi untuk selamanya.
Pesan moral yang yang disampaikan dalam film ini mengajarkan kepada
manusia untuk dapat mendamaikan iman dan nalar agar tidak mengamalkan agama
secara buta di dunia ini. Oleh karenanya, ilmu dan pengetahuan sangatlah
dibutuhkan untuk menjinakkan nalar yang berpotensi mengesampingkan iman
sehingga kita menjadi tidak sadar akan adanya hal gaib dan supaya Tuhan tetap
menjadi fokus utama dan Esa di dalam hidup kita.
“Kita datang ke dunia ini lalu meninggalkannya, sejauh itu sudah
pasti kurasa. Jalan tempat kita mengarungi dunialah yang perlu kita pahami.”
– Al-Ghazali.
The
Alchemist of Happines, film ini
mengajarkan kepada para penontonnya terutama kepada saya agar lebih memaknai
hidup. Meskipun dikemas dengan bahasa yang agak sulit dipahami dan perlu
beberapa kali menonton agar paham maksud yang ingin disampaikan, namun hal
tersebut justru membuat saya menjadi semakin penasaran bagaimana alur cerita
dan siapa Al-Ghazali sebenarnya. Dengan menggunakan lebih dari satu sudut
pandang, hal tersebut membuat film ini menjadi terkesan lebih apik. Selain itu, banyak pengetahuan-pengetahuan baru yang saya dapat
setelah menonton film ini diantaranya adalah tentang perjalanan hidup salah seorang
filsuf muslim yang namanya banyak disebut-sebut sebagai tokoh tasawuf terkenal.
Setelah saya menonton film ini, semangat saya untuk lebih mengenal filsafat semakin tinggi. Saya pun menyadari ketika saya semakin ingin mengetahui tentang sesuatu ternyata semakin banyak pula sesuatu yang belum saya tahu. Jejak Ghazali yang berani untuk keluar dari zona nyaman (comfort zone) membuat saya menjadi semakin tertantang, saya menyadari bahwa ternyata ilmu yang selama ini saya miliki belum cukup untuk menjawab tentang siapa diri saya sebenarnya. Aktualisasi diri, selama ini menjadi fokus yang paling dominan untuk setiap orang, termasuk saya. Tetapi, setelah menonton film ini, saya menemukan banyak makna yang salah satunya mengatakan bahwa pada dasarnya kebutuhan puncak manusia bukan ketika ia berhasil mengaktualisasikan dirinya, namun ada kebutuhan lain yang lebih tinggi, yaitu kebutuhan untuk mengetahui akar kehidupan yaitu berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan.
Setelah saya menonton film ini, semangat saya untuk lebih mengenal filsafat semakin tinggi. Saya pun menyadari ketika saya semakin ingin mengetahui tentang sesuatu ternyata semakin banyak pula sesuatu yang belum saya tahu. Jejak Ghazali yang berani untuk keluar dari zona nyaman (comfort zone) membuat saya menjadi semakin tertantang, saya menyadari bahwa ternyata ilmu yang selama ini saya miliki belum cukup untuk menjawab tentang siapa diri saya sebenarnya. Aktualisasi diri, selama ini menjadi fokus yang paling dominan untuk setiap orang, termasuk saya. Tetapi, setelah menonton film ini, saya menemukan banyak makna yang salah satunya mengatakan bahwa pada dasarnya kebutuhan puncak manusia bukan ketika ia berhasil mengaktualisasikan dirinya, namun ada kebutuhan lain yang lebih tinggi, yaitu kebutuhan untuk mengetahui akar kehidupan yaitu berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan.
“Sederhana,
namun penuh makna.”
Tidak ada hal yang lebih baik selain
belajar dan terus belajar. Belajar dari hal apapun dan
dari siapapun, terlebih dari hal-hal yang terkadang kita anggap tidak menyenangkan sekalipun. Belajar untuk mencari kebenaran meski
jalan yang harus dilaluinya begitu sulit. Karena dunia ini ada dari yang
tidak ada, dan kita pun serupa, ada karena ketiadaan.
Wallahu A’lam
Bishawab.
Komentar
Posting Komentar