Bebaskan Dirimu dari Sifat Iri dan Dengki


Bismillahirrahmanirrahim.

Janganlah kamu saling dengki, jangan memutus hubungan persaudaraan, jangan saling membenci, dan jangan pula saling membelakangi (saling berseteru) dan jadilah kamu semua hamba Allah sebagai saudara”.

Kutipan tersebut saya ambil dari sebuah buku yang sangat memberikan banyak pelajaran berharga kepada saya. Sebuah buku karangan Abdillah F. Hasan yang berjudul 99 Resep Hidup Rasulullah. Seperti judulnya, buku tersebut berisi 99 resep hidup Rasulullah –kekasih Allah sekaligus nabi terakhir di muka bumi. Salah satu dari 99 resep hidup Rasulullah yaitu menjauhi sifat iri.

Sudahkah kita yang mengaku sebagai hamba-Nya sekaligus pengikut Rasulullah menjauhi sifat tersebut? Sudahkan kita benar-benar membersihkan hati kita dari sifat tersebut? Mari sejenak kita renungkan bersama melalui tulisan ini.

Pernahkah kita merasa sedih apabila melihat teman atau saudara kita sedang berbahagia? Atau sebaliknya, merasa bahagia apabila melihat mereka sedang bersedih? Jika “ya” berarti sifat iri masih bersemayam dalam diri kita. Bagaimana hidup kita mau bahagia bila sampai detik ini saja kita masih kerap menghalangi kebahagiaan orang lain? Berusaha sekuat tenaga agar orang lain tidak mendapatkan sesuatu yang sampai saat ini tidak juga kita dapatkan. Apakah seperti itu kebahagiaan yang sesungguhnya?

Sesunggunya Allah telah berfirman, “Jika kamu semua mendapatkan kebaikan, maka hal itu tidak mengenakkan hati mereka. Sedang kamu semua mendapatkan kejelekan, maka dengan sebab kejelekan itu mereka pun bergembira”. (QS. 3:120)

Iri atau dengki adalah salah satu penyakit hati yang tanpa disadari akan memakan setiap kebaikan yang telah kita lakukan. Pernah mendengar kisah tentang Iblis yang ‘ditendang’ dari Surga karena enggan bersujud kepada Nabi Adam a.s? Kisah tersebut merupakan salah satu gambaran dari adanya sifat iri dan dengki. Iblis dendam –orang yang berbudi luhur mengatakan bahwa dengki adalah unjuk rasa yang diekspresikan dengan kejengkelan atas anugerah yang diturunkan Allah kepada hamba-Nya– kepada Nabi Adam a.s. Bagaimana tidak? Iblis yang sudah ribuan tahun hidup dan mengabdi kepada Allah harus patuh dan bersujud kepada Nabi Adam yang baru saja diciptakan dan terbuat dari tanah? Kisah ini termaktub dalam Alquran Surah al-A’raf ayat 12.

Dari kisah tersebut, secara tersirat jelas bahwa Allah melarang kita untuk mengembangbiakkan sifat iri dan dengki dalam diri kita. Sebab sifat tersebut sangat merugikan terutama bagi diri kita. Hati yang diliputi sifat iri dan dengki akan membuat hidup menjadi tidak nyaman dan tentram karena kerap memikirkan kelebihan yang diterima orang lain tanpa pernah mensyukuri kelebihan yang dimiliki oleh diri kita sendiri.

Jauhilah oleh kalian hasad (iri dan dengki) karena ia memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar”. (HR. Abu Dawud)

Maka, ketika sifat iri dan dengki masih bersemayam dalam diri kita, sebanyak apapun kebaikan yang telah kita lakukan tanpa terasa akan habis dan tidak tersisa. Bayangkan, bila kita hidup selama 20 tahun tapi tanpa kita sadari kita masih memiliki sifat iri dan dengki, maka selama itu pula kebaikan yang telah kita lakukan habis terkikis oleh sifat tersebut. Lantas, amal kebaikan apa lagi yang kita miliki jika sewaktu-waktu kita harus menghadap kepada-Nya?

Astaghfirullah hal ’adzim..

Oleh karenanya, Rasulullah –makhluk yang berhati paling bersih– memberikan resep penangkal dengki dengan jalan ridha atas apa yang menjadi kehendak Allah. Bersyukur terhadap apa saja pemberian Allah. Rezeki setiap hamba di muka bumi ini tidak akan pernah tertukar sebab semuanya sudah tertakar. Kesuksesan dan kebagaiaan pun demikian, Allah tidak pernah keliru terhadap hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dan tidak.

Mulai saat ini, bebaskan diri kita dari sifat iri dan dengki. Berhenti memandang kebahagiaan dan kesuksesan orang lain sebagai hal yang buruk karena kita tidak bisa seperti mereka. Berdoalah kepada-Nya agar kita bisa seperti mereka tanpa harus menjatuhkan dan membuat mereka bersedih. Berdoalah agar kebahagiaan dan kesuksesan yang mereka raih bisa membawa dampak positif dan keberkahan pula untuk diri kita.

Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua perkara, yakni seorang yang diberi Allah harta lalu dia belanjakan pada jaan yang benar dan seorang diberi Allah ilmu dan kebjiksanaan lalu dia elaksankan dan mengajarkannya”. (HR. Bukhari)

Semoga Allah senantiasa membebaskan diri kita dari sifat iri dan dengki serta selalu memberkahi setiap langkah kita, menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang senantiasa bersyukur atas apa saja nikmat yang telah diberikan. Terus berjuang dalam kebaikan tanpa harus menjatuhkan siapa pun, berusaha untuk meraih kebahagiaan tanpa harus membuat siapa pun bersedih.

Semoga tulisan singkat ini dapat menjadi self reminder untuk kita. Berusaha untuk terus membenahi diri sebab tidak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini. Kesempurnaan hanya milik Allah. Tetap berjuang menyebarkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Tetap berdakwah dengan cara apapun dan dalam kondisi apapun. Karna kita tidak pernah tahu dari mana datangnya hidayah Allah.

Aamiin Allahuma Aamiin.

Wallahu’alam Bishawab.

Komentar

  1. Masya Allah...astaghfirullah...tulisan ini seharusnya selalu dibaca sebagai antisipasi dan pengingat akan amalan kita,supaya tidak termasuk orang yang merugi diakhirat nanti,terimakasih mBak

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Sosok Pendiri Tarekat Sufi Kubrawiyah

My First Impression about Filsafat

Orangtua Cerdas, Anak Berkualitas