Jangan Mudah Marah
"Seorang yang mampu mengendalikan emosi dalam diri adalah pemenang yang sejati" - Unknown.
Bismillahirrahmanirrahim..
Tidak bisa dipungkiri, setiap manusia pasti pernah marah. Sebab
tidak ada manusia yang sempurna dan terbebas dari dosa serta kesalahan. Bila
begitu, apakah Rasulullah juga pernah marah? Ya, sebagaimana sifat manusia pada
umumnya, Rasulullah juga bisa marah. Bahkan beliau berkata, “Aku ini hanya
manusia biasa, aku bisa senang sebagaimana manusia senang dan aku bisa marah
sebagaimana manusia marah”.
Namun, meski beliau pernah berkata demikian, satu hal yang perlu
kita ketahui bahwasannya kemarahan beliau tidak untuk urusan duniawi. Beliau
bisa marah apabila aturan Allah dilanggar dan syariat-Nya tidak lagi
dihiraukan. Selain itu juga, perlu diketahui bahwa marahnya Rasulullah tidak
pernah diluapkan secara berlebihan hingga memaki-maki dan menyakiti perasaan
orang lain.
Ada sebuah kisah yang saya kutip dari sebuah buku bergenre islami
tentang kisah hidup Rasulullah. Suatu ketika ada seorang Arab Badui yang
memasuki masjid, lantas ia kencing di salah satu sisi masjid. Para sahabat yang
melihat hal tersebut seketika meneriaki dan berusaha mencegahnya. Namun
Rasulullah dengan jiwanya yang tenang bersabda, “Jangan kalian putuskan
kencingnya”. Beliau tidak marah dan tetap mampu mengendalikan diri. Saat
orang tersebut selesai dari kencingnya, beliau menyuruh agar tempat yang
terkena air kencingnya tersebut disiram dengan seember air, lalu memanggil
orang Badui tadi dan bersabda kepadanya, “Sungguh masjid ini tidak layak
dijadikan tempat untuk membuang kotoran, tetapi masjid ini dipersiapkan untuk
salat, membaca Alquran dan berzikir kepada Allah (dzikrullah)”.
Dari kisah tersebut, dapatkah kita berkaca? Rasulullah, manusia
paling mulia yang sudah dijamin masuk Surga dan diampuni segala dosanya baik
saat ini maupun yang akan datang saja dapat dengan bijaksana mengelola
emosinya. Sedangkan kita? Yang hanya manusia biasa dan penuh dengan dosa serta
kesalahan dan kapan pun bisa dipanggil untuk menghadap kepada-Nya masih selalu
mengedepankan emosi dalam melakukan berbagai aktivitas? Astaghfirullah hal
‘adzim..
Kebanyakan manusia –mungkin termasuk diri kita sendiri– masih
banyak yang selalu mengedepankan emosi daripada akal sehat. Dalam berlalu
lintas saja misalnya, kita terkadang masih sering marah yang tidak jelas hanya
karena disalip dengan kecepatan tinggi oleh pengendara lain. Kita sering menggerutu akan hal itu, “Wih sok
banget naik motor kencang-kencang sudah seperti jagoan saja!”. Belum lagi bila
kendaraan kita tersenggol sedikit oleh pengendara lain, bukan lagi gerutuan
yang keluar dari mulut kita, tapi bisa jadi makian kasar yang sampai menyakiti
hati orang lain. Kebut-kebutan karena ingin segera sampai rumah walhasil kita
menjadi orang yang tidak sabar, klakson sana, klakson sini, mengganggu orang
lain. Dosa lagi yang sudah kita perbuat. Astaghfirullah hal ‘adzim..
Marah itu alamiah jika ditempatkan pada posisi yang benar. Namun
janganlah jadi seseorang yang mudah marah, sedikit-sedikit emosional,
sedikit-sedikit tersinggung, apalagi terhadap sesuatu yang semestinya masih
bisa dimaklumi. Tanpa kita sadari jika kita membiarkan bibit-bibit amarah
berkembang dalam diri kita, berbagai macam penyakit bisa menghampiri kita kapan
saja. Bukan hanya penyakit psikis tetapi juga penyakit fisik. Bahkan, sejumlah
peneliti di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa marah bisa meningkatkan resiko
serangan jantung lima kali lipat dan stroke hingga tiga kali lipat. Naudzubillahi
mindzalik.. Benar apabila sering ada yang mengatakan kalimat, “Jangan
marah-marah nanti cepat tua”.
Allah pun telah memerintahkan umatnya untuk senantiasa menahan
amarahnya, “...dan orang-orang yang bisa menahan amarahnya dan memaafkan
kesalahan orang lain”. (QS. 3:135)
Potongan ayat tersebut menjelaskan bahwa mengendalikan amarah
adalah salah satu sifat orang-orang yang bertakwa. Bahkan alangkah lebih mulia
orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain yang membuat dirinya marah. Sebab
untuk menyelesaikan suatu permasalahan tidak melulu harus mengedepankan emosi.
Rasulullah pernah bersabda, “Orang yang paling kuat bukanlah ia yang menang
dalam pergulatan, tetapi ia yang dapat mengendalikan dirinya saat ia marah”.
(HR. Bukhari dan Muslim)
Lantas bagaimana caranya mengatasi dan mengendalikan amarah?
Rasulullah sebagai suri tauladan untuk umatnya memberikan petunjuk dan cara
untuk mengatasinya, “Marah itu datangnya dari setan dan setan terbuat dari
api, dan api hanya bisa dipadamkan oleh air. Oleh karena itu, apabila salah
seorang di antara kalian marah, maka berwudhulah”. (HR. Abu Dawud)
"Anybody can become angry -that is easy, but to be angry with the right person and to the right degree and at the right time and for the right purpose, and in the right way- that isn't within everybody's power and isn't easy" - A.
Semoga kita dapat menjadi orang-orang terkuat, orang-orang yang
dapat menahan amarah dan menempatkan emosi kita pada tempat yang seharusnya.
Semoga kita semua dijauhkan dari sifat emosional yang akan menimbulkan
perpecahan antar umat beragama. Semoga kita senantiasa menjadi pengikut
Rasulullah, mengamalkan sifat baik beliau dan dapat mengelola emosi kita dengan
bijaksana layaknya beliau. Aamiin..
Semoga dengan membaca tulisan ini, saya, Anda, dan kita semua dapat
saling bercermin dan introspeksi diri. Masihkah kita menjadi manusia yang
selalu mengedepankan amarah? Semoga Allah selalu melindungi kita semua dari
sifat buruk setan yang terkutuk. Aamiin..
Wallahu’alam Bishawab.
Komentar
Posting Komentar