Konseling Individual dengan Terapi Doa Setelah Salat Fardu

Seperti yang dikemukakan oleh Syamsu Yusuf dan A. Juntika Nurihsan (2008) bahwa konseling adalah hubungan tatap muka yang bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan pemberian kesempatan dari konselor kepada klien, konselor mempergunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk membantu klien mengatasi masalah-masalah.
Dalam proses konseling ada yang disebut dengan konseling individu dan konseling kelompok. Prayitno (1994) menjelaskan bahwa konseling individual adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara oleh seorang konselor kepada individu yang sedang mengalami masalah (konseli) dan bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.Sedangkan Holipah (2011) mendefinisikan bahwa proses konseling individu memiliki pengaruh yang besar terhadap peningkatan klien karena pada konseling individu konselor berusaha meningkatkan sikap seseorang dengan cara berinteraksi selama jangka waktu tertentu dengan cara bertatap muka secara langsung untuk menghasilkan peningkatan pada klien, baik cara berpikir, perasaan, sikap maupun perilaku.
Pada kesempatan kali ini, saya ingin mencoba menerapkan konseling individu kepada konseli saya. Pada proses konseling kali ini, saya tidak hanya menggunakan pendekatan konseling barat saja tetapi juga menambahkannya dengan doa usai salat fardu yang harus diamalkan oleh klien selama beberapa hari berikutnya.
Berikut saya lampirkan asesmen klien yang saya dapatkan melalui proses wawancara beserta dengan diagnosa masalah, proses konseling atau treatment yang mencakup pendekatan konseling barat dan doa usai salat fardu yang dapat diamalkan serta evaluasi dan terminasi.

A. Asesmen
Klien yang saya tangani berinisial A. Ia adalah salah satu mahasiswi semester 3 (tiga) jurusan Bimbingan Konseling Islam (BKI) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Ia tinggal di lingkungan Mayabon, Cipocok Jaya Kota Serang. Ia adalah remaja yang cerdas dan cukup populer di antara teman sebayanya. Ia memiliki perangai yang baik dan tutur kata yang santun serta kepribadian yang lebih condong ke arah sanguinis. Selain cerdas, A juga saat taat menjalankan perintah agama, baik fardu maupun sunah.
Saat ini, A sedang menempuh pendidikan Strata 1 pada jurusan Bimbingan Konseling Islam (BKI) di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. A telah menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasarnya di SDN Banjarsari 2 pada tahun 2011. Lalu, menyelesaikan Sekolah Menengah Pertamanya di SMPN 10 Kota Serang pada tahun 2014. Kemudian menamatkan Sekolah Menengah Atasnya di SMAN 6 Kota Serang pada tahun 2017.
A terlahir dari keluarga yang sederhana. Ia adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Ayah A adalah seorang wiraswasta yang memilki bengkel las di lingkungan Mayabon. Sedangkan Ibu A adalah ibu rumah tangga yang bekerja mengurus rumah dan keluarga.
Pola asuh yang diberikan orangtua terhadap A bersifat otoritatif yaitu pola asuh yang bersifat bebas tetapi terkontrol (high love and high control). Orangtua A selalu memberi kebebasan kepada anak-anaknya terutama kepada A untuk memilih jalan hidupnya, tetapi mereka tetap memberikan arahan dan pengawasan penuh. Orangtua A tidak bersifat otoriter. Begitupun mengenai masalah pendidikan, orangtua A selalu memberikan kebebasan kepada anak-anaknya terutama kepada A untuk memilih pendidikan yang diinginkan. Meskipun selalu memberikan kebebasan dan keleluasaan dalam memilih, orangtua A tidak pernah lupa menanamkan nilai-nilai agama kepada anak-anaknya termasuk kepada A.

B. Diagnosa Masalah
Setelah saya melakukan asesmen kepada A, ia pun bersedia menceritakan permasalahannya kepada saya. Dari cerita yang disampaikannya, saya dapat mendiagnosa atau menarik kesimpulan bahwa A memiliki masalah tidak bisa melupakan masa lalunya atau yang sering kita sebut dengan istilah belum move on.
A kesulitan untuk melupakan masa lalunya bersama dengan seorang laki-laki yang pernah hadir dalam hidupnya semenjak masa-masa SMA. Kedekatan A dan temannya bermula dari sebuah project bersama yang mereka garap. Dalam project tersebut, mereka menjadi partner yang tidak bisa terpisahkan. Mereka selalu bersama hingga akhirnya tanpa mereka sadari tumbuh rasa ketertarikan antara satu sama lain di antara mereka.
Hingga ada suatu hal yang membuat A dan teman laki-lakinya itu berpisah dan komunikasi di antara mereka menjadi tidak baik, bahkan menghilang (lost contact). Hal tersebut yang menjadikan A semakin penasaran dengan teman laki-lakinya tersebut dan terus berusaha mencari kabar tentangnya.
Kini, karena permasalahan yang sedang dihadapinya, A menjadi seorang yang sering merasa cemas, tidak bisa berkonsentrasi serta sulit untuk fokus mengerjakan suatu hal. A sangat ingin melupakan teman laki-lakinya tadi karena A merasa bahwa rasa yang ia miliki salah dan tidak seharusnya ia merasakan hal demikian. Namun semakin ia ingin melupakan teman laki-lakinya tadi, justru ia merasa semakin sulit dan terkadang hal itu yang mengganggu pikirannya sehingga ia pun sulit untuk berkonsentrasi dan fokus.
A menyadari bahwa hal tersebut salah, tetapi ia bingung dan tidak mengetahui bagaimana cara untuk melupakan teman laki-lakinya tersebut. Ia ingin bisa fokus dan tidak memikirkan hal itu lagi. Ia juga ingin menyingkirkan pikiran bahwa ia tidak bisa melupakan teman laki-lakinya tersebut. Ia ingin hidupnya difokuskan hanya untuk beribadah kepada Allah, belajar dan membahagiakan orangtuanya tanpa harus memikirkan hal-hal yang tidak membawa manfaat untuk dirinya.

C. Treatment
Dari gejala-gejala yang dialami A, saya mencoba untuk memberikan treatment dengan pendekatan REBT (Rational Emotive Behavior Therapy) sebelum saya memberikan amalan berupa doa usai salat fardu yang harus diamalkannya
Treatment pertama yang saya berikan kepada A setelah proses asesmen berlangsung pada tanggal 24 Oktober 2018 di Laboratorium Bantenologi. Pada proses treatment ini saya mencoba untuk menghilangkan pikiran-pikiran irasional yang ada pada diri A dan menggantinya dengan pikiran-pikiran yang rasional. Ketika A berpikiran bahwa dirinya tidak mampu melupakan teman laki-lakinya tersebut, saya mencoba meyakinkan A bahwa ia mampu bahkan sangat mampu untuk melakukan hal tersebut. Saya terus memberikan pikiran-pikiran yang rasional yang dapat diterima dengan logikanya.
Terapi yang saya terapkan kepada A tidak berlangsung instan atau sebentar dan sekali pertemuan. Perlu lebih dari satu kali pertemuan untuk bisa meyakinkan A bahwa ia mampu melakukan sesuatu yang selama ini ia pikir tidak mampu.
Kemudian, pada tanggal 30 Oktober 2018 saya kembali bertemu dengan A di Laboratorium Bantenologi. Saya menanyakan perkembangan yang dialami A setelah melakukan proses konseling pada pertemuan sebelumnya. A menceritakan kembali perkembangan yang dialaminya, ia sudah merasa lebih baik dan mulai bisa menyingkirkan pikiran irasional dalam dirinya. Lalu, pada pertemuan kedua, saya mencoba untuk memberikan konseling spiritual dengan menyadarkan A bahwa setiap masalah berasal dari Allah dan penyelesaiannya harus dikembalikan kepada Allah.
Dalam proses konseling spiritual, saya menggunakan terapi doa untuk membantu A menyelesaikan permasalahannya. Saya memberikan amalan berupa doa usai salat fardu yang terdapat dalam Alquran Surah Ar-Ra’d ayat 39.

يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ
Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).

Doa tersebut dapat dilakukan dengan:
  1. Membaca doa tersebut sebanyak tiga kali (3x) setalah salat fardu dengan niat dan keyakinan dalam hati untuk bisa melupakan seseorang yang tidak membawa manfaat bagi diri sendiri serta memohon ketenangan pikiran.
  2. Doa tersebut juga bisa dibaca setelah melaksanakan salat sunah, baik salat hajat maupun tahajud.
  3. Tidak putus untuk memohon kepada Allah melalui doa kapan pun dan di mana pun. 

Selain doa tadi, saya juga memberikan beberapa cara yang dulu sempat saya lakukan untuk melupakan seseorang, yaitu:

  1. Harus yakin dengan ketetapan Allah. Allah selalu memberikan yang terbaik. Allah memberikan sesuatu yang hambanya butuhkan bukan apa yang hambanya inginkan. Seperti firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 216.
  2. Perbanyak dzikir, sebab dzikir dapat menenangkan pikiran dan dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah. Seperti firman Allah dalam surah Ta-Ha ayat 130.
  3. Berusaha menerima kenyataan. Kita harus meyakini bahwa Allah has best plan for us.
  4. Jauhi perkara yang berkaitan dengan orang tersebut. Kita harus mulai memberanikan diri untuk menghapus segala memori tentang seseorang jika memang kita berniat untuk melupakannya.
  5. Jangan menyendiri untuk memikirkan dia.
  6. Meningkatkan ketakwaan kepada Allah.
  7. Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat.
  8. Mengikuti majlis taklim.
  9. Banyak mendengarkan ceramah untuk me-recharge iman.
  10. Yakin bahwa rencana Allah lebih baik.
  11. Perbanyak baca Alquran seperti firman Allah dalam surah Al-Anfal ayat 2.
  12. Perbanyak doa kepada Allah seperti firman-Nya dalam surah Al-Baqarah ayat 186.
  13. Menjaga salat (fardu dan sunah).
  14. Sabar.
  15. Berbicara atau berbagi cerita dengan orang yang dapat dipercaya semata-mata untuk meringankan beban dan mendapatkan nasihat yang baik.

D. Evaluasi dan Terminasi
Setelah saya memberikan amalan berupa doa yang dapat dibaca setelah salat fardu dan beberapa cara yang dapat dilakukan A agar dapat dengan mudah melupakan temannya, A terus mengamalkan doa tersebut selama kurang lebih satu minggu mulai dari 30 Oktober 2018 s/d 7 November 2018 dan pada akhirnya A dapat merasakan ketenangan dan dapat lebih fokus serta tidak sering mengingat teman laki-lakinya tersebut.
Selama satu minggu proses pengamalan doa usai salat fardu, saya tidak lepas untuk menanyakan atau memantau bagaimana perkembangan A dalam usahanya untuk melupakan teman laki-lakinya tersebut, baik via whatsapp maupun bertemu langsung dengan A di kampus. Ternyata, hasil dari treatment yang saya berikan kepada A menunjukkan hasil yang baik. A sudah mulai bisa melupakan dan mengikhlaskan apa yang terjadi pada dirinya. Kini ia dapat lebih menerima segala sesuatu yang terjadi kepada dirinya. Ia pun kini semakin menyibukkan dirinya dengan melakukan berbagai hal yang positif dan tidak pernah meninggalkan salat dan amalan apapun yang dapat mendekatkan dirinya kepda Allah. Pikiran irasional dalam dirinya pun sudah hilang dan kini ia lebih berpikir ke arah yang lebih rasional untuk melanjutkan hidupnya.
Saya mengakhiri proses treatment pada tanggal 8 November 2018 dengan hasil yang cukup memuaskan.  Jadi, kesimpulan dari hasil penelitian (wawancara) sekaligus treatment atau proses konseling yang saya berikan kepada klien, nampaknya amalan berupa doa usai salat fardu yang saya berikan berhasil menghilangkan gangguan yang ada pada pikirannya. Meski saya meyadari bahwa keberhasilan mutlak adalah karena kehendak Allah dan kesungguhan dari seseorang yang meminta kepada-Nya melalui salat dan doa.
Harapan saya selaku terapis adalah agar A dapat terus semangat dan fokus dalam menjalani hidup serta menggapai impiannya. Saya juga berharap agar A dapat berusaha menjauhkan diri dari bebagai hal yang tidak disenangi Allah agar senantiasa hidupnya selalu penuh keberkahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Sosok Pendiri Tarekat Sufi Kubrawiyah

My First Impression about Filsafat

Orangtua Cerdas, Anak Berkualitas