Menjemput Hidayah
Hidayah itu memang milik Allah
Dan sepenuhnya menjadi hak prerogatif Allah.
Meski
begitu..
Manusia
perlu usaha
Manusia
perlu berjuang
Agar
bisa menjemput hidayah dari-Nya.
Memang..
Manusia hanya bisa berusaha
Menguatkan niat dan azzam di dada.
Karena
pada hakikatnya..
Sekuat
apapun manusia berusaha
Hanya
Allah yang dapat membolak-balikan hati manusia.
Bila kita meminta dan memohon hidayah-Nya, tapi Allah belum
berkehendak
Maka hidayah itu tidak akan datang padanya.
Namun
sebaliknya, bila Allah berkehendak memberikan hidayah
Sekuat
apapun kita menjauh, maka hidayah itu pun akan tetap datang menghampiri
Kita pun
tidak dapat mengelak darinya.
“Hidayah
itu dijemput bukan ditunggu”
Pernah nggak kamu dengar kalimat tersebut? Kalau kamu pernah
dengar berarti kamu harus sadar kalau hidayah itu tidak akan bisa datang kalau
tidak kita yang menjemputnya.
Kata
hidayah berasal dari kata al-Hadyu yang bermakna bimbingan hidup
perilaku dan jalan sebagaimana dalam firman Allah
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al Quran) ini tidak ada
keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”
Lantas, kamu tahu kenapa hidayah harus dijemput?
Ada dua macam hidayah, pertama adalah hidayah al-irsyad (ad-dilalah)
dan al-bayan. Hidayah ini artinya penjelasan dan keterangan kepada
sebuah jalan. Hidayah ini dimiliki oleh Allah dan oleh makhluk-Nya.
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
“Sesungguhnya Al Quran ini
memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira
kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada
pahala yang besar.”
Kedua
adalah hidayah taufik. Hidayah ini hanya dimiliki oleh Allah. Dia akan
memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan tidak akan memberikannya
kepada yang tidak dikehendaki-Nya pula.
سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا ۚ قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Orang-orang yang kurang akalnya
diantara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam)
dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?”
Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada
siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.”
“Rezeki dan jodoh saja kamu jemput, masa hidayah masih tetap
mau kamu tunggu?”
Jika hati kita ibarat cermin dan kotoran atau noda yang menempel
pada cermin tersebut adalah dosa yang telah kita lakukan, lalu hidayah-Nya
adalah pantulan cahaya yang datang, maka mustahil cermin tersebut dapat
memantulkan cahaya yang datang. Itulah mengapa kita harus berusaha untuk
membersihkan kotoran yang ada pada cermin tersebut sehingga sekecil apapun
pancaran cahaya yang datang akan cepat dipantulkan oleh cermin tersebut.
Waktu untuk manusia hidup di dunia itu tidak bisa ditentukan dan
tidak ada seorang pun yang mengetahui. Oleh karenanya kita harus senantiasa
memanfaatkan waktu yang kita miliki untuk melakukan berbagai kebaikan dan
hal-hal yang bermanfaat, salah satunya adalah berusaha untuk menjemput hidayah.
Sebab siapa manusia yang tidak ingin pulang dengan membawa bekal yang cukup?
Bagaimana cara untuk menjemput hidayah?
Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk
menjemput hidayah Allah, di antaranya adalah:
- Beriman dan mendekatkan diri kepada Allah
- Menjaga salat fardu
- Menjalankan sunah Rasulullah
- Membaca dan Mengamalkan Alquran
- Bertaubat kepada Allah serta berdoa dan memohon hidayah kepada Allah
Semoga kita termasuk ke dalam orang-orang yang gigih dalam
menjemput hidayah-Nya dan termasuk ke dalam kumpulan orang-orang yang
dikehendaki Allah untuk mendapatkan hidayah. Sebab hanya Allah Yang Maha
Mengetahui dan maha membolak-balikan perasaan hamba-Nya.
Allahumma mushorrifal quluub shorif quluubina ‘ala tho’atik. Yaa muqolibal quluub tsabit quluubinaa ‘alaa diinik.
Komentar
Posting Komentar