Jangan Merasa Paling Menderita
Pada 9
Desember 2018, saat saya sedang dalam perjalanan menuju kampus, saya bertemu
dengan dua orang perempuan separuh baya. Salah seorang di antara keduanya
sedang mendapatkan musibah yaitu kehilangan gawai miliknya. Katanya yang saya
dengar, gawai tersebut tertinggal di teras supermarket saat ia sedang menunggu
seseorang. Salah seorang dari perempuan tadi menelepon nomor pemilik gawai
tersebut dan ternyata diangkat oleh seorang laki-laki yang mengaku kalau nomor tersebut
merupakan nomornya –secara tidak langsung mengatakan bahwa gawai tersebut
adalah miliknya– dan ia sedang berada di Surabaya. Mendengar jawaban demikian
tergambar raut wajah yang kesal bercampur amarah dan kesedihan dari perempuan
pemilik gawai tersebut. Sepanjang perjalanan hingga saya turun dari angkutan
umum tersebut ia terus menggerutu –entah pada siapa– dan tidak habis pikir
dengan kejadian yang menimpanya.
Dari
pengalaman tersebut, saya terinspirasi untuk membuat sebuah tulisan yang saya
harap dapat bermanfaat sekaligus menjadi pengingat untuk para pembaca setia
blog ini dan terkhusus untuk diri saya sendiri.
Setiap
manusia yang masih dapat membuka mata dan menghembuskan napas sudah pasti
selalu diberikan ujian oleh Allah. Sunnatullah, tidak ada manusia yang hidup
tanpa diberikan ujian oleh Allah. Musibah bukan hanya berupa bencana atau
malapetaka, tetapi harta, kedudukan, jabatan itu pun merupakan sebuah musibah
bagi seseorang yang tidak bisa menahannya.
Ketika
kita diuji dengan berbagai macam cobaan, jangan pernah merasa kalau hidup kita
yang paling menderita. Seolah-olah hanya kita yang memiliki masalah paling
besar, ujian yang paling sulit, hutang yang paling banyak dan sial yang paling
sering atau sejenisnya. Jangan merasa demikian! Sunggh, sekalipun jangan
pernah!
Pernahkah
kita berpikir bahwa apa tujuan Allah memberikan kita berbagai macam cobaan dan
ujian hidup, bila tidak untuk kembali dan meminta kepada-Nya? Bahkan Allah pun
mengatakan bahwa Dia tidak akan memberikan ujian dan cobaan kepada seorang
hamba melampaui batas kemampuannya. Kurang romantis apa lagi sih Allah
tuh?
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan
sesuai dengan kesanggupannya...”
Apabila kita masih tetap merasa menjadi orang yang paling menderita, cobalah untuk introspeksi diri. Mungkin saja kita masih kurang bersyukur, jarang beristigfar, sering mengeluh, banyak melakukan perbuatan maksiat atau bahkan kita termasuk dalam orang-orang yang kehilangan iman dalam hati? Naudzubillahi min dzalik.
Padahal
dengan jelas Allah telah mengatakan dalam QS. Ibrahim : 7
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“Dan
(ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu
mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
Dari ayat tersebut seharusnya kita dapat menangkap makna bahwa kita
harus dan wajib untuk selalu bersyukur apapun keadaan yang kita miliki. Sebab syukur
merupakan salah satu bentuk dari keimanan dan ketakwaan seorang hamba kepada-Nya.
Selain itu juga untuk menghindari pemikiran bahwa diri kita adalah orang yang paling “menderita” di dunia ini adalah dengan memperbanyak istighfar dan menjauhi segala perbuatan yang berbau kemaksiatan. Saya pernah membaca sebuah kalimat di akun instagram yang sangat ‘menampar’ perasaan saya yaitu, “Jangan kau cela lambatnya jawaban doa padahal telah kau sumbat jalannya dengan maksiat dan dosa.”
Namun, apabila kita masih juga merasa menjadi orang yang paling
menderita cobalah untuk bergaul lebih jauh dan memperbanyak silaturahim.
Cobalah untuk mencari teman lebih banyak dan belajar dari mereka. Sehingga mata
kita bisa terbuka dan kita bisa melihat bahwa ternyata di luar sana masih
banyak orang-orang yang hidupnya tidak seberuntung hidup kita. Kita masih bisa
bernapas dengan leluasa tanpa alat bantu, tetapi pernahkah kita banyangkan
orang yang terkapar di ruang ICU, jangankan untuk membuka mata dan berbicara
untuk bernapas saja mereka memerlukan banyak alat bantu dari tenaga medis? So,
masih mau merasa demikian?
Cobalah sekali-sekali menjadi manusia yang banyak bersyukur dan
beristighfar. Jadilah manusia yang selalu berpikir positif dan berhusnudzan
kepada Allah. Tinggalkan maksiat dan tetap yakin dengan segala ketetapan yang
Allah berikan kepada kita.
Kita harus ingat bahwa harta, jabatan, kedudukan dan teman boleh
saja hilang. Namun, satu hal yang tidak boleh hilang yaitu KEIMANAN kepada
Allah.
Ma fi qabli ghairullah.
Ma fi qabli ghairullah.
Ma fi qabli ghairullah.
Ma fi qabli ghairullah.
Ma fi qabli ghairullah.
Komentar
Posting Komentar