Usia yang Kedua

Teruslah menulis dan mem-posting hal-hal yang baik karena ini merupakan salah satu usia kedua kita yang akan terus berlanjut setelah berakhirnya usia pertama –kematian.” (Ustadz Boris Tanesia)
Seperti halnya yang kita ketahui bahwa setiap muslim –laki-laki maupun perempuan yang telah balig– memiliki kewajiban untuk berdakwah. Sebagai wujud dari rasa cinta kepada Rasulullah, sudah seharusnya kita meneruskan atau menyambung perjuangan beliau dalam menyampaikan dakwah. Bahkan perlu diketahui saking mulianya tugas dakwah sampai-sampai Allah menyematkan predikat “Khoirul Ummah” kepada umat-umat Nabi Muhammad yang dengan tulus mau menjalankan tugas dakwah tersebut.


كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran : 110)

Di era kemajuan teknologi dan informasi, dakwah tidak hanya dapat disampaikan dari mimbar ke mimbar melalui media lisan saja, tetapi lebih daripada itu. Teknologi yang semakin berkembang pesat –internet merupakan salah satunya– membawa banyak dampak dalam penyampaian dan penerimaan informasi. Salah satu dampak yang dapat dirasakan yaitu dalam dunia dakwah. Dakwah yang dulunya dipandang sebagai kegiatan ‘kuno’ kini eksistensinya sudah mulai terlihat dan perlahan mulai bersinar.

Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya kreator muslim yang ‘melek’ teknologi dan mau  mengembangkan dakwah kreatif. Seperti contohnya yaitu Angkringan Dakwah yang berada di DI Yogyakarta. Sebuah pengajian gaya talkshow –serius tapi santai– dengan latar diskusi di angkringan ternyata banyak disukai banyak orang. Selain itu, saat ini pun banyak ditemui film pendek, video ilustrasi atau animasi muslim yang memiliki unsur dakwah untuk kalangan masyarakat mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa. Tidak ketinggalan, ada juga dakwah dalam bentuk tulisan –dapat berupa tulisan fiksi; seperti cerpen, puisi maupun nonfiksi– yang cocok untuk kalangan masyarakat yang memiliki hobi menulis dan membaca.

Sebab dengan menulis kita bisa berbagi inspirasi

Saya paham tidak semua orang suka dan menikmati dunia tulis menulis. Namun saya yakin semua orang memiliki kemampuan untuk menulis. Sebenarnya menulis itu bukan perkara suka atau tidak suka, juga bukan perkara bisa atau tidak bisa, tetapi ada tanggungjawab atas ilmu yang seharusnya kita sampaikan kepada orang lain –berdakwah. Sebab dakwah merupakan amar ma’ruf nahi munkar. Banyak manusia yang bisa melakukan konsep amar ma’ruf, tetapi tidak banyak manusia yang sanggup melaksanakan konsep nahi munkar.

Ibnu Jauzi berkata, “Aku menyimpulkan manfaat menulis banyak daripada manfaat mengajar dengan lisan. Dengan lisan aku bisa menyampaikan ilmu hanya pada sejumlah orang, sedangkan dengan tulisan aku dapat menyampaikan kepada orang yang tidak terbatas yang hidup sesudahku.

Saya teringat dengan tulisan Rochma Yulika dalam Materi Tayang AIHQ ODOJ 539, “Maka tidakkah diri kita tergerak untuk menggoreskan beberapa kata atau catatan yang terbetik dalam benak dan pikiran kita? Padahal di antara kita tentu banyak ide yang bisa menginspirasi serta memotivasi orang lain. Apabila hal tersebut terjadi tentunya akan menjadi amal jariyah untuk kita.”

Saya pun paham memang bukan tugas kita memberi petunjuk dan hidayah untuk orang lain, tetapi ketika dengan membaca apa yang kita tulis lantas ada keinginan dari orang tersebut untuk berubah, sementara cahaya sudah ada di depan mata niscaya perubahan akan terjadi pada mereka yang ingin meraihnya.

Semoga melalui tulisan ini ada seseorang yang apabila hatinya masih tertutup bisa sedikit terbuka, apabila hatinya sudah mulai terbuka bisa terbuka semakin lebar dan apabila sudah terbuka lebar bisa memberikan sinar untuk manusia lainnya. Bukkankah sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya?

Wallahu’alam Bishawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Sosok Pendiri Tarekat Sufi Kubrawiyah

My First Impression about Filsafat

Orangtua Cerdas, Anak Berkualitas