Kunci Bahagia


Kebahagiaan adalah sesuatu yang diharapkan dan diimpikan oleh setiap manusia di dunia. Bohong kalau ada manusia yang berkata bahwa ia tidak menginginkan kebahagiaan. Sekalipun tidak kebahagiaan di dunia, pastilah setiap manusia menginginkan kebahagiaan yang abadi di akhirat. Demi mendapatkan kebahagiaan (di dunia), terkadang manusia sampai berani melakukan berbagai hal yang tidak semestinya dilakukan seperti berbohong, berbuat curang sampai menyakiti orang lain.

Kebahagiaan menjadi salah satu hal yang sangat menarik untuk dibahas karena selain alasan yang telah disebutkan sebelumnya, kebahagiaan atau rasa bahagia dapat silih berganti setiap saat dalam sekejap mata. Terkadang pada pagi hari kita bisa saja menjadi sangat bahagia karena suatu hal tetapi ketika sore hari perasaan bahagia itu tiba-tiba saja hilang –terkadang tanpa alasan yang jelas– dalam sekejap tanpa meninggalkan bekas.

Rasa bahagia dan tidak bahagia

Setiap manusia tentu memiliki ukuran dan takaran tersendiri dalam hal meraih kebahagiaan atau rasa bahagia. Takaran rasa bahagia setiap manusia itu berbeda-beda tergantung dari mana manusia itu mengukur dan menyikapi setiap hal yang terjadi pada dirinya. Begitupun dengan timbulnya rasa bahagia dan tidak bahagia. Jangankan oranglain, diri kita sendiri pun mungkin sering merasakan dua hal yang sama tetapi dengan kondisi –bahagia atau tidak bahagia– yang berbeda. Suatu saat kita merasa sangat bahagia karena memiliki pekerjaan yang sudah diimpikan sejak lama, tetapi dalam hitungan detik bahagia tersebut dapat berubah menjadi rasa tidak bahagia mungkin karena rasa bosan atau lelah yang kita alami. Contoh lainnya adalah ketika kita begitu bahagia karena mendapat kenaikan gaji –dengan ekspektasi tinggi kita merencanakan untuk membeli ini dan itu– tetapi saat itu pula kita ingat ada hutang yang harus segera dilunasi, tentulah dalam hitungan detik rasa bahagia dapat hilang dan meluap entah ke mana.

Di manakah letak kebahagiaan itu?

Seorang psikolog mengatakan jika kita meletakan kebahagiaan di luar diri kita maka kita tidak akan pernah merasa bahagia. Sejatinya kita tidak memerlukan apa-apa (dari luar diri) untuk bahagia. Kebahagiaan itu ada dalam diri kita sendiri, yang menjadi permasalahannya adalah kita sering kali mencari ke luar diri untuk menemukannya.

Pernahkah kita mencari tahu atau menghitung dalam diri kita sendiri ada berapa banyak rasa bahagia dan tidak bahagia yang dirasakan dalam sehari semalam? Kemudian, mana yang lebih sering dirasakan, bahagia atau tidak bahagia? Coba ingat kembali apa saja hal yang membuat anda bahagia dan tidak bahagia hari ini?

Mengapa perlu merasa bahagia?

Alangkah menyedihkan jika kita tidak mengetahui alasan mengapa kita hidup di dunia ini. Namun, betapa beruntungnya jika kita mengetahui siapa yang memberikan udara (oksigen) yang setiap hari kita hirup hingga sampai detik ini kita masih berada di dunia. Mari kita sedikit melakukan hitung-hitungan. Bukan bermaksud hendak menghitung nikmat yang telah Allah berikan, karena tentu jawabannya adalah tidak terhitung dan kita pun tidak sanggup untuk menghitungnya meskipun hanya nikmat sehari semalam.

Mulai detik ini, ketika kamu membaca tulisanku, cobalah rasakan denyut nadi dan detak jantungmu. Periksa dan lihatlah sekelilingmu, apakah pengelihatanmu masih berfungsi dengan baik? masih dapat membedakan warna, ukuran, bentuk dan lain sebagainya? Coba tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan secara perlahan, masihkah kamu dapat merasakan nikmatnya bernafas tanpa alat bantu? Cobalah gerakan tubuh, tangan dan kakimu, masihkan berfungsi dengan semestinya tanpa bantuan alat apapun? Teruslah hitung dan rasakan sampai kamu menemukan keajaiban dari kebahagiaan dan nikmat yang sesungguhnya.

Syukur adalah kuncinya

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 7)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) syukur berarti rasa terima kasih kepada Allah, pernyataan lega, senang dan sebagainya. Sedangkan dalam Alquran kata syukur dengan berbagai bentuknya ditemukan sebanyak 64 kali. Salah satunya yaitu dalam Surah Ibharim ayat 7 (tujuh) yang telah ditulis sebelumnya.

Namun, yang menjadi permasalahan saat ini adalah banyak manusia yang tidak meyakini dan merasakan keajaiban syukur kepada Sang Maha Pencipta Allah Ta’ala. Selain itu banyak pula rasa bahagia yang sama sekali tidak muncul karena dibutakan mata hatinya untuk menikmati dan menghayati ayat-ayat Allah dalam diri sehingga lupa caranya untuk bersyukur.

Jadi bagaimana agar bahagia dapat kita rasakan? Jawabannya adalah tambahlah dan tingkatkan rasa syukur terhadap segala sesuatu yang telah Allah berikan kepada kita. Berhentilah untuk menghitung kebahagiaan dan nikmat yang telah Allah berikan untuk orang lain sebab kita tidak pernah tahu apa yang telah Allah ambil dari dirinya. Mulai saat ini aku tantang kamu untuk menghitung kebahagiaan dan nikmat yang telah Allah berikan kepadamu. Jika kamu tidak mampu menghitungnya, maka berhentilah untuk membandingkan kebahgaiaan dan nikmat yang Allah berikan untuk orang lain.

Hanya dengan bersyukur hidup semakin nikmat

Dalam sebuah riwayat diceritakan suatu malam Rasulullah shalat malam hingga kaki beliau bengkak, kemudian Aisyah bertanya kenapa Rasulullah melakukan hal tersebut padahal beliau adalah kekasih utusan Allah, orang yang pasti masuk surga, diampuni segala dosa-dosanya. Rasulullah menjawab bahwa ia melakukan hal demikian sebagai wujud rasa syukurnya kepada Allah.

Kita memang bukan manusia seperti Rasulullah, tetapi setidaknya kita dapat mencontoh sifat beliau yang tetap bersyukur dalam kondisi apapun. Ketika sakit kita tetap bersyukur karena masih diberikan umur untuk memohon ampun kepada-Nya sehingga ketika sehat rasa syukur tersebut semakin bertambah. Alangkah indahnya hidup jika kita terus mensyukuri sekecil apapun nikmat yang Allah berikan. Jadilah manusia yang selalu berprasangka baik terhadap segala kehendak dan ketetapan-Nya agar hidup menjadi tenang dan bahagia.

Semoga kita semua termasuk ke dalam hamba Allah yang selalu menysukuri nikmat dan dijauhkan dari adzab-Nya yang pedih. Aamiin.

Wallahu’alam Bishawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Sosok Pendiri Tarekat Sufi Kubrawiyah

My First Impression about Filsafat

Orangtua Cerdas, Anak Berkualitas