Lika-Liku Dakwah

Kita ini da’i sebelum yang lain  (Nahnu du’at qabla sya’i)

Sudah menjadi tugas setiap manusia di dunia ini untuk mengajak manusia lainnya menuju kebaikan. Lantaran esensi dakwah yang sesungguhnya bukan hanya kala seseorang mampu berbicara di atas mimbar atau podium, tetapi ketika seseorang mampu mengajak kepada kebaikan dengan ikhlas dan sabar. Mengajak manusia mengenal Allah lebih dekat –melalui ciptaan-Nya di bumi– dan mengenal Rasulullah serta meneladani jejak kebaikan yang telah diwariskannya.

Berdakwah bukan hanya menjadi tugas seorang da’i melainkan tugas setiap umat muslim. Oleh sebab itu berdakwah bukanlah suatu hal yang mudah, mengingat manusia sebagai makhluk sosial sekaligus menjadi objek sasaran dakwah itu sendiri. Oleh karenanya dibutuhkan banyak ruang kesabaran yang disediakan. Mulai dari belajar mengelola rasa, menata hati sampai membiasakan untuk bersikap bijak dalam suatu kebersamaan merupakan tugas yang tidak kalah penting dalam berdakwah.

Setiap kita tentunya akan berjumpa dengan ujian dan akan beriring dengan cobaan yang datang. Kenyataan hidup mengajarkan bahwa manis pahit rasa yang hadir sudah menjadi sunnatullah dari setiap kehidupan manusia yang tidak bisa dipungkiri. Ibnu Athaillah Al Iskandari berkata bahwa adakalanya manusia berjumpa dengan kesulitan, dan adakalanya berjumpa dengan kemudahan. Selalu digilirkan antara kesulitan dan kemudahan supaya manusia senantiasa bersandar kepada Allah.

Namun sejatinya tidak ada ujian yang tidak dapat terlewati dan terselesaikan. Setiap ujian pasti ada jalan keluar dan penyelesaiannya. Entah melalui jalan yang mudah maupun jalan yang rumit. Salah satu ujian tersebut misalnya orang yang mudah tersinggung dan marah akan senantiasa Allah pertemukan dengan orang yang akan membuatnya tersinggung dan marah sampai ia bisa memperbaiki titik kelemahannya itu sehingga ia tidak mudah tersinggung dan menjadi pemarah lagi.

Begitupun dalam upaya menyiarkan kebaikan melalui bingkai dakwah, terkadang tidak jarang kita merasakan ujian mulai dari sakit –baik fisik maupun psikis, kecewa, bahkan terluka karena lisan yang sengaja atau tidak sengaja menggores luka sampai relung hati terdalam.

Kita semua harus memahami sekaligus berusaha untuk mengatasi segala kelemahan diri di jalan dakwah. Ingatlah bahwa mushaf Alquran tidak akan pernah terbang dengan sendirinya, kemudian datang dan memukuli orang-orang yang bermaksiat. Melalui kitalah seharusnya pelajaran dan pengajaran yang terdapat dalam mushaf tersebut disampaikan dengan sebaik-baiknya.

Lantas bagaimana tugas kita sebagai seorang muslim untuk melakukan yang terbaik menuju jalan Allah? Kita harus meyakinkan diri bahwa peran dakwah kita begitu dinantikan banyak kalangan. Bahkan kiprah di tengah masyarakat pun harus segera kita lakukan. Namun ada yang perlu kita sadari dan garis bawahi. Bahwa bumi tempat kita berpijak tidak abadi. Umur yang melekat pada diri kita pun terbatas hari. Segala sesuatu yang kita miliki pun hanya titipan Allahu rabbi. Maka pijakan atas nilai ilahi sudah seharusnya kita pegangi. Sehingga akan tercipta motivasi kuat di jalan-Nya yang senantiasa mewarnai.

Beberapa karakter yang harus melekat dalam diri pejuang dakwah —termasuk kita— adalah:
Pertama, bekerja dengan ikhlas; lantaran hanya dengan keikhlasanlah amal kita dapat bernilai dihadapan Allah. Keikhlasan akan meringankan langkah kita —dalam berdakwah— dan membuat segala sesuatunya menjadi mudah dijalani.

Kedua, bekerja dengan mawas; menjalani kebersamaan itu tidaklah mudah, butuh kehati-hatian dalam bersikap, berkata dan memilih diksi dalam setiap kalimat dengan bijaksana. Tidak semua hal bisa terukur, tertakar dan terlihat dari kacamata diri kita sendiri. Sangat mungkin ada kata yang melukai hati, pandangan mata yang menyinggung nurani, dan sikap yang tidak berkenan dalam sanubari.

Ketiga, bekerja dengan cerdas; pejuang dakwah harus senantiasa berusaha untuk terus belajar dan mencari wawasan baru sehingga mampu bekerja dengan cerdas. Selalu berusaha mencari peluang baru dalam berdakwah dan apa yang harus dilakukan agar dapat menyentuh hati mad’u. Selau berusaha untuk melakukan inovasi dan mengembangkan kreativitas supaya dakwah senantiasa menggelora dan tidak padam.

Keempat, bekerja dengan keras; tidak dapat dikatakan sebagai seorang pejuang —dakwah— jika menjalani amanah hanya setengah-setengah. Bekerja dengan optimal sesuai kapasitas tentu akan membuahkan hasil terbaik. Aktivitas dakwah membutuhkan orang-orang yang bisa diajak bekerja dengan gigih karena dakwah merupakan tugas yang berkesinambungan yang menjadi warisan dari Rasulullah dalam rangka menegakkan kalimatullah.

Kelima, bekerja dengan tuntas; Allah telah mengisyaratkan dalam ayatnya bahwa dalam menyelesaikan tugas harus tuntas —tidak setengah-setengah. Kodrat manusia memiliki energi positif dan negatif, sehingga terkadang apabila energi negatif lebih mendominasi —daripada energi positif— maka akan timbul rasa malas, gelisah hati, enggan menyelesaikan tugas dengan tuntas dan membuat langkah terhenti. Oleh karena itu manajemen hati —yang baik— sangat dibutuhkan sehingga ketuntasan dalam amanah akan tercapai.

Terakhir, bekerja penuh produktivitas; bila kita telah memenuhi kelima hal sebelumnya pasti akan ada hasil yang nyata sebagai wujud kontribusi kita di jalan dakwah. Akan ada sejarah yang mencatat peran serta kita untuk membangun peradaban yang bermartabat untuk umat.

Semoga kita senantiasa menjadi umat muslim yang bersemangat untuk menebar kebaikan di bumi dengan menghidupkan atau menyiarkan dakwah. Hingga pada akhirnya kita —karena Allah— dapat mewujudkan segala sesuatu yang tersembunyi di hati menjadi perbuatan nyata yang bermanfaat untuk kebaikan setiap manusia.

Wallahu’alam Bishawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Sosok Pendiri Tarekat Sufi Kubrawiyah

My First Impression about Filsafat

Orangtua Cerdas, Anak Berkualitas