Menata Hati, Introspeksi Diri


Bukan hanya aplikasi, iman juga perlu di-upgrade lho

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

Iman berarti percaya atau membenarkan (segala sesuatu yang tidak kasat mata). Lebih dari itu, iman juga bisa diartikan sebagai sebuah kepercayaan yang harus diucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan perbuatan. Secara dong, setiap kepercayaan dan pembenaran perlu ada bukti yang menguatkan bukan? Ya, begitu pun dengan iman.

Dalam Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, Imam Ath-Thahawi menyatakan bahwa iman adalah pembenaran dengan hati, ikrar dengan lisan dan amalan dengan seluruh anggota badan. Jadi, menurutnya kesempurnaan iman dapat tercapai apabila ketiga hal tersebut telah ada dalam diri seseorang.

Bukan hanya aplikasi, iman juga perlu di-upgrade lho. Mengapa ya? Apakah keimanan dalam diri seseorang akan ‘kadaluarsa’ ? layaknya aplikasi yang tidak bisa dibuka kalau tidak di-upgrade? Ya, kita perlu sadar kalau kita ini hanyalah manusia biasa yang kapan saja dapat melakukan salah dan dosa. Sedangkan iman dalam diri manusia itu sifatnya fluktuatif atau naik turun. Tidak percaya?

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya mengatakan, ‘kami beriman’ dan meraka tidak diuji?” (QS. Al-Ankabut: 2)

Ketika iman kita sedang naik pastilah kita sangat bersemangat untuk melaksanakan setiap perintah Allah, beribadah, dan melangkahkan kaki ke majlis ilmu. Tetapi ketika iman kita sedang turun, jangankan untuk melangkah ke majlis ilmu, mendirikan kewajiban lima waktu saja kadang sering ditunda-tunda sampai hampir terlupa. Astaghfirullahal’adzim.

Lalu bagaimana caranya agar iman kita tetap stabil atau setidaknya jangan sampai menurun drastis? Iman dapat meningkat dengan banyak melakukan amal baik. Jadi mulai sekarang cobalah untuk melakukan minimal satu amalan baik dalam sehari misalnya berdzikir sebelum memulai dan mengakhiri hari. Tidak mudah memang, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba melakukan, kan siapa tahu bisa ketagihan.

Jadikan doa sebagai kebutuhan bukan pilihan

Setiap kita pasti pernah berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebab pada dasarnya kita hanyalah manusia yang penuh dengan keterbatasan tetapi selalu memiliki hasrat untuk hidup dalam kesejahteraan dan ketentraman. Pernahkah kita berpikir kapan waktu yang paling sering kita gunakan untuk berdoa? Saat sedihkah atau bahagia? The answer in yours.

Apabila kita lebih sering meminta dan berdoa saat keadaan sedih, seharusnya mulai saat ini kita berkaca. Mengapa kita hanya datang kepada-Nya saat membutuhkan? Sedangkan ketika kita diperlakukan demikian oleh oranglain kita tidak menyukainya. Astagfirullahal’adzim.

Seharusnya kita menjadikan doa sebagai kebutuhan. Sehingga ketika dalam sehari kita tidak berdoa, akan selalu ada bagian dalam diri kita yang hilang. Alhasil dalam keadaan apapun kita akan senantiasa berdoa dan mengingat-Nya. Baik keadaan bahagia, agar kita tidak kufur nikmat ataupun keadaan yang tidak menyenangkan agar kita bisa menyusukuri sekecil apapun nikmat yang diberikan oleh-Nya.

“Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku akan mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah: 186)

So, jangan ragu untuk menjadikan doa sebagai kebutuhan ya. Sebab dengan berdoa kita dapat selangkah lebih dekat dengan Sang Pencipta. Doa adalah perisai sekaligus amunisi terbaik bagi seorang hamba. Bahkan tanpa kita sadari sejatinya doalah yang dapat mengubah takdir seseorang.
“Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa.” (HR. Ibnu Majah)

Bagaimana bila doa tidak kunjung dikabulkan?

Berdoa itu tidak seperti delivery order fast food, saat kita order makanan langsung diantarakan dengan segera sesuai pesanan yang kita mau. Kita harus sadar, sebagai seorang hamba yang tidak memiliki apa-apa kitalah yang lebih butuh kepada-Nya. Karenanya kita pulalah yang harus lebih gencar melangitkan doa. Percayalah, tidak ada doa yang sia-sia. Yakinlah bahwa Allah akan selalu menjawab doa kita.

Tapi mengapa terkadang apa yang Allah berikan tidak sesuai dengan doa yang kita panjatkan? Nah, itulah romantisnya Allah. Kita harus paham bahwa Allah bukan hanya pengasih dan penyanyang tetapi Maha Pengasih, Maha Penyayang. Sehingga, Allah tentu lebih tahu mana yang terbaik bagi hamba-Nya dan Allah pun akan memberikan apa saja yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.

Meskipun berat dan berliku, hidup harus tetap disyukuri

Aku menantangmu untuk menghitung berapa banyak nikmat yang telah Allah berikan selama kamu hidup? Apabila kamu menyerah dan tidak mampu menghitungnya. Tolong, mulai detik ini berhenti untuk membandingkan nikmatmu dengan nikmat orang lain. Tentu semuanya berbeda, Sayang. Sebab apa yang Allah ambil dari mereka juga berbeda dengan apa yang Allah ambil darimu. Don’t judge people that you don’t know their life. If you want to change different, start from yourself.

...لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah : 286)

Allah memberikan ujian hidup tentu sesuai dengan kadar kesanggupan hamba-Nya. Mengapa Allah memberikan ujian hidup yang berbeda antara kita dengan mereka? Ya tentu karna Allah tahu mereka tidak akan mampu dibebani ujian yang seharusnya kita terima, begitupun sebaliknya.

Kita harus tetap menikmati jalan hidup yang telah Allah tetapkan. Namun, menikmati bukan berarti menerima begitu saja tanpa berusaha dan berikhtiar menjadi manusia yang lebih baik ya. Menikmati di sini berarti ikhlas dan bersyukur terhadap setiap pemberian Allah.

Semoga kita dapat menjadi hamba yang senantiasa mau menata hati dan mengintrospkesi diri. Belajar untuk menerima segala ketetapan yang diberikan Allah dengan ikhlas dan lapang dada, menjadikan doa sebagai kebutuhan hidup, serta mensyukuri sekecil apapun nikmat yang ada dalam diri kita tanpa perlu merasa iri dengan nikmat yang ada dalam hidup orang lain. Aamiin.

Wallahu’alam bishawab.

Komentar

  1. According to Stanford Medical, It is in fact the SINGLE reason women in this country live 10 years longer and weigh on average 42 pounds less than us.

    (And actually, it really has NOTHING to do with genetics or some secret-exercise and EVERYTHING around "how" they are eating.)

    P.S, I said "HOW", not "what"...

    TAP on this link to discover if this quick test can help you unlock your true weight loss potential

    BalasHapus
  2. Assalamualaikum. Hallo Kak, aku pernah membaca salah satu karya kakak di web Cerpenmu.com. Cerpen itu bagus sekali kak. Bolehkah aku menjadikannya objek kajian untuk tugas kuliahku? Terima kasih sebeleumnya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Sosok Pendiri Tarekat Sufi Kubrawiyah

My First Impression about Filsafat

Orangtua Cerdas, Anak Berkualitas