Untukmu yang (Akan) Menjadi Seorang Pemimpin Keluarga

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisanku sebelumnya yang berjudul “Ibadah Seumur Hidup”. Buat kalian yang belum baca, aku saranin baca dulu di sini sebelum lanjut ke tulisan ini. Nah, buat kalian yang sudah baca tulisan sebelumnya, yuk sekarang kita sama-sama simak dan belajar bersama lagi di ruang maya ini, hehe.

Tulisan kali ini aku buat untuk para ikhwan yang (akan) menjadi seorang pemimpin keluarga. InsyaAllah (apabila Allah mengkhendaki) di tulisan berikutnya aku akan menulis untuk para akhwat yang (akan) menjadi makmum sekaligus madrasah pertama bagi anak-anak.

Kamu (ikhwan) tahu kan Khadijah dan Aisyah? Khadijah yang terkenal dengan kekayaannya, memiliki sifat keibuan, dan sholeha, serta Aisyah yang muda dan cerdas? Yap, benar sekali mereka berdua adalah istri dari Rasulullah Muhammad SAW. Aku yakin, selintas pasti kamu (pernah) bermimpi atau bahkan menginginkan memiliki pendamping hidup seperti mereka, bukan? Siapa sih ikhwan di dunia ini yang tidak mau memiliki pasangan yang sempurna untuk melengkapi hidup dan separuh agamanya.

Tapi tahukan kamu bahwa Khadijah dan Aisyah pun memiliki berbagai kekurangan? Khadijah itu tidak lagi muda ketika menjadi istri Rasulullah, bahkan perbedaan usia Khadijah dan Rasulullah mencapai 15 tahun. Aisyah memiliki sifat pencemburu berat, bahkan pernah membanting piring di depan tamu Rasulullah. Akankah kamu bisa sesabar Rasulullah yang menanggapi kemarahan istrinya dengan senyum dan kasih sayang?

Jika para istri Rasulullah yang amat sholeha saja pun memiliki kekurangan, lalu pertanyaannya sekarang bagaimana dengan akhwat di zaman ini, bukan?

Untukmu, ikhwan yang akan menjadi seorang pemimpin keluarga..

Saat kamu dengan lantang mengucapkan “Saya terima nikahnya...” saat itulah kamu harus siap menerima semuanya. Menerima masa lalunya, seburuk apa pun itu. Menerima kekurangannya, sejelek apa pun itu. Menerima ia (akhwat) tersebut untuk menjadi makmum dalam rumah tanggamu.
Sebab apa? Ucapan yang keluar dari mulutmu tidak sampai hitungan jam, bahkan lima menit pun kurang. Tapi kehidupan yang akan kamu jalani dengannya itu lebih dari hitungan jam, bahkan seumur hidupmu.

Menikah itu artinya memiliki strandar sendiri untuk membangun rumah tangga. Menikah artinya menikmati setiap dinamika kehidupan yang kadang berliku, menanjak, bahkan menurun. Menikah artinya kamu harus selalu mendampinginya tanpa ragu, bersama melewati proses, menghadapi tantangan, ujian, dan cobaan sepanjang jalan kehidupan. Menikah itu artinya siap dengan segala konsekuensi yang akan dijalani bersamanya.

Untukmu, ikhwan yang akan menjadi seorang pemimpin keluarga..

Jangan paksa ia (akhwat) untuk menjadi seperti apa yang kamu inginkan. Ia tetap dirinya, bukan orang lain. Maka, terimalah ia dengan ikhlas karena Allah. Kamu memiliki hak untuk membimbingnya menjadi lebih baik, tapi kamu harus ingat satu hal bahwa sejatinya ia tetap manusia biasa yang memiliki banyak kekurangan.

Jangan sekali-kali mengeluarkan kalimat kasar apalagi sampai menyakiti hatinya. Ingatlah bahwa ia telah rela menghabiskan sisa hidupnya dan meninggalkan kedua orangtuanya hanya untuk mengabdikan diri kepadamu.

Jadilah ikhwan yang bertanggungjawab dalam segala hal. Baik untuk urusan dunia maupun akhiratmu dengannya. Cukupilah kebutuhan lahir dan batinnya. Karena sungguh baginya hanya kamu orang yang ia percaya dan sebagai pelindung setelah kedua orangtuanya.

Jangan dikecewakan dan jangan kecewa kepadanya. Sebab mungkin ia sedang berusaha menjadi seperti apa yang kamu mau. Kamu hanya perlu sabar dan jangan berhenti untuk berdoa yang terbaik.
Rasa cinta dan sayang itu seperti roller coaster, kadang naik kadang turun. Oleh karenanya cintai dan sayangi ia karena Allah. Agar kelak ketika cintamu sedang turun, Allah perlihatkan sisi baiknya yang dapat membuat cintamu dapat kembali naik dan terus naik.

Dan untukmu, ikhwan yang akan menjadi seorang pemimpin keluarga..

Niatkan, niatkan, niatkan dalam hati untuk memilikinya karena bukti taatmu kepada Allah sekaligus untuk menjalankan sunah Rasulullah. Karena dengan begitu semakin banyak pahala, kebaikan yang dapat kamu raih, dan begitupun dengan keridhaan-Nya. Aamiin.

Semoga siapapun itu yang membaca (baik ikhwan maupun akhwat) tulisan ini, kalian dapat mengambil sisi baik yang dapat dijadikan ilmu dan pengetahuan baru untuk lebih siap menjalani hidup ke depan.
Karena aku belum berkeluarga jadi aku ingin bisa mendaptkan pendamping terbaik. Yap, tentunya dengan memantaskan diri untuk menjadi yang terbaik pula. Aku bukan orang yang cerdas. Semua tulisan yang aku posting hanya bermaksud untuk berbagi dan mengingatkan dalam kebaikan.

Wallahu’alam bishawab.

Jika ingin taat, jangan berjuang sendiri, berat. Ajaklah aku biar kita bisa taat bersama meraih Jannah-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Sosok Pendiri Tarekat Sufi Kubrawiyah

My First Impression about Filsafat

Orangtua Cerdas, Anak Berkualitas